Sikronisasi Birahi Pada Ternak Ruminansia

Sikronisasi Birahi Pada Ternak Ruminansia.

A. Defenisi Sinkronisasi Birahi

Sinkronisasi adalah suatu pengendalian estrus yang dilakukan pada sekelompok ternak betina sehat dengan memanipulasi mekanisme hormonal, sehingga keserentakan estrus dan ovulasi dapat terjadi pada hari yang sama atau dalam kurun 2 atau 3 hari setelah perlakuan dilepas, sehingga Inseminasi Buatan dapat dilakukan serentak (Toelihere, 1985). Sikronisasi ini mengarah pada hambatan ovulasi dan penundaan aktivitas regresi Corpus Luteum (CL) (Hafes, 1993). Ada dua tujuan dalam melakukan sinkronisasi estrus yakni 1) untuk mendapatkan seluruh ternak yang diberikan perlakuan mencapai estrus dalam waktu yang diketahui dengan pasti sehingga masing-masing ternak tersebut dapat di IB dalam waktu bersamaan. 2) untuk menghasilkan angka kebuntingan yang sebanding atau lebih baik disbanding dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan yang dikawinkan dengan IB atau oleh pejantan.

Pada prinsipnya siklus estrus bisa dilakukan karena dalam siklus estrus ada dua fase yaitu fase folikuler dan fase luteal yang sangat brbeda secara hormonal. Fase luteal memerlukan waktu yang lebih panjang dari pada fase folikuler.
Sikronisasi estrus dapat dilakukan dengan memanipulasi siklus birahi yaitu:

  • Menghilangkan fungsi korpus luteum.
  • Menekan perkembangan folikel selama fase luteal.

Sinkronisasi estrus dengan memperpanjang fase luteal

  • Corpus luteum beregresi secara alami.
  • Memblok FSH & LH setelah CL beregresi.
  • Preparat : Progesteron (P4) yang diberikan selama 14-21 hari (tergantung spesies)
  • Penghentian P4 : Folikel berkembang, estrus, dan ovulasi
  • Estrus : 2-8 hari setelah penghentian pemberian P4
  • Metode Pemberian: orally, pessaries, ear implant and intravaginal devices
    Sinkronisasi estrus dengan memperpendek fase luteal
  • Menginduksi regresi CL lebih awal (Luteolisis)
  • Preparat: PGF2 α atau analognya (Cloprostenol) daya luteolitik pada semua spesies (fase perkemabangan CL); Estrogen daya luteolitik pada ruminansia, tidak pada kuda & babi.

Siklus estrus sapi secara umum dibagi dalam 4 fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Berdasarkan perubahan-perubahan dalam ovaria siklus estrus dapat dibedakan pula menjadi 2 fase, yaitu fase folikel, meliputi proestrus, estrus serta awal metestrus, dan fase lutea, meliputi akhir metestrus dan diestrus.
Fase 1. Proestrus (prestanding events). Fase ini hanya berlangsung 1 – 2 hari. Betina berperilaku seksual seperti jantan, berusaha menaiki teman-temannya (homoseksualitas), menjadi gelisah, agresif, dan mungkin akan menanduk, melenguh, mulai mengeluarkan lendir bening dari vulva, serta svulva mulai membengkak.
Fase 2. Estrus (Standing Heat). Pada fase ini hewan betina diam bila dinaiki oleh temannya atau standing position. Tetapi juga perlu diperhatikan hal lain seperti seringkali melenguh, gelisah, mencoba untuk menaiki teman-temannya. Sapi betina menjadi lebih jinak dari biasanya. Vulva bengkak, keluar lendir vulva jernih, mukosa terlihat lebih merah dan hangat apabila diraba.

Fase 3. Metestrus (Pasca Birahi). Periode ini berlangsung selama 3 – 4 hari setelah birahi, sedikit darah mungkin keluar dari vulva induk atau dara beberapa jam setelah standing heat berakhir. Biasanya 85% dari periode birahi pada sapi dara dan 50% pada sapi induk berakhir dengan keluarnya darah dari vulva (untuk cek silang saat mengawinkan inseminasi harus sudah dilakukan 12-24 jam sebelum keluarnya darah). Keadaan ini disebut perdarahan metestrus (metestrual bleeding), ditandai dengan keluarnya darah segar bercampur lendir dari vulva dalam jumlah sedikit beberapa hari setelah birahi. Perdarahan ini biasanya akan berhenti sendiri setelah beberapa saat. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi dan tidak selalu menunjukkan bahwa bila diinseminasi ternak akan bunting atau tidak. Keluarnya darah hanya akan menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus birahi.

Fase 4. Diestrus. Berlangsung selama 12 – 18 hari setelah periode metestrus sampai periode proestrus berikutnya dan alat reproduksi praktis ”tidak aktif” selama periode ini karena di bawah pengaruh hormon progesteron dari korpus luteum.

B. Manfaat dan Keuntungan Sinkronisasi Birahi

Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan birahi, diikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi maupun IB terjadwal (timed artificial insemination). Angka konsepsi atau kebuntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi sinkronisasi estrus ini.

Manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada sapi ada beberapa, antara lain:

  • Optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB. Dengan teknik ini dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu tertentu.
  • Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau birahi tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di Indonesia dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.
  • Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya anestrus post partum (anestrus pasca beranak).
  • Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post partum breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat digunakan untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan days open (hari-hari kosong) dan pemendekkan jarak beranak.
  • Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer embrio sapi. Dalam program transfer embrio, embrio beku maupun segar (diambil dari sapi donor pada hari ke 7 setelah estrus) ditransfer ke resipien pada fase siklus estrus yang sama. Sinkronisasi estrus biasanya digunakan untuk maksud tersebut.

Dalam literatur lain menyebutkan manfaat sinkronisasi estrus yaitu :

  1. Optimalisasi dan Efisiensi Pelaksanaan IB. Dengan teknik ini pelaksanaan IB dapat dilakukan secara massal. Kombinasi sinkronisasi estrus dan Inseminasi Buatan pada sapi bertujuan untuk meningkatkan mutu genetis, efisiensi pelaksanaan Inseminasi Buatan, adanya kelahiran pedet yang relatif sama umurnya dan meniadakan deteksi estrus.
  2. Mengatasi Masalah Kesulitan Pengenalan Birahi. Subestrus atau birahi tenang yang umum terjadi pada sapi potong dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.
  3. Mengatasi Masalah Reproduksi tertentu, misalnya anestrus post partum (anestrus pasca beranak).
  4. Fasilitasi Program Perkawinan Dini Pasca Beranak (early post partum breeding) pada sapi potong. Teknik ini dapat digunakan untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan days open (hari-hari kosong) dan pemendekan jarak beranak.

Inseminaasi Buatan tidak bisa dilakukan langsung setelah pemberian hormon prostaglandin F2α . Dibutuhkan waktu 2-4 hari atau hingga timbul gejala birahi. Setelah timbul gejala birahi maka Petugas Inseminator mendatangani Peternak untuk melakukan Inseminasi Buatan.

Adanya Kegiatan sinkronisasi estrus ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja reproduksi sapi Madura, meningkatkan produktivitas sapi Madura, meningkatkan penghasilan peternak, meningkatkan jumlah Akseptor IB, dan membantu program pemerintah dalam swasembada daging Tahun 2014, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat diadakan secara berkelanjutan di tahun- tahun berikutnya .

C. Fungsi Sinkronisasi Estrus

  1. Mengurangi waktu untuk menemukan hewan birahi
  2. Memberi kemudahan bagi penggunaan inseminasi buatan, terutama pada kawanan sapi pedaging, dengan memberi perlakuan pada hewan secara berkelompok.
  3. Dalam hubungan dengan prosedur saat ovulasi, agar dapat melakukan inseminasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya
  4. Memungkinkan memberi makan hewan dalam kelompok yang seragam, terutama bila ini menyangkut perubahan ransum sesuai dengan fase kebuntiongan.
  5. Sebagai kelanjutan dari pembiakan serentak, membatasi keseluruhan periode kelahiran pada kawanan atau kelmpok ternak
  6. Memungkinkan melakukan pengawasan kelahiran dengan tujuan mengurangi kematian anak baru lahir dan pengaturan pengasuhan anak pada induk lain
  7. Setelah pengendalian perkawinan yang berhasil, memungkinkan untuk melakukan penyapihan, penggemukan, dan pemasaran kawanan ternak yang seragam.
  8. Memudahkan pemanfaatan transfer embrio (Hunter, 2000)

D. Keuntungan siklus estrus pada ternak adalah sebagai berikut (Ismaya, 1998):

  • Memudahkan dan efisiensi deteksi birahi.
  • Memudahkan dalam pelaksanaan kawin buatan.
  • Memudahkan tata laksana pemberian pakan ternak bunting.
  • Memudahkan tatalaksana kelahiran dan pemeliharaan anak.
  • Memudahkan tatalaksana penggemukan anak jantan.
  • Memudahkan tatalaksana pemibibitan.
  • Memudahkan pemasaran.

E. Metode Sinkronisasi Birahi

Sikronisasi estrus pada sapi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  1. Menghilangkan corpus luteum atau enukleasi luteal
    1. Perusakan fisik pada CL dngan menggunakan jari melalui rektum, pada saat CL dalam keadaan berfungsi (masak).
    2. Perlu tenaga yang profesional.
    3. 50 – 60 % dari sekelompok sapi yang peka, empat hari kemudian akan birahi.
    4. Resiko hemorhagia dan perlekatan fimbria (Ismaya, 1998).
  2. Penyuntikan Progesteron
  3. Penyuntikan selama 18 -20 hari (50 mg/hari).
  4. Menghambat fase luteal melalui umpan balik negatif.
  5. Kelemahannya yaitu injeksi memerlukan waktu dan tenaga, timbulnya birahi bervariasi kurang lebih 5 hari, fertilisasi menurun/rendah (Ismaya, 1998).
  6. Pemberian progestagen aktif per oral (mulut)
  7. Mengatasi kesulitan kedua diatas dan lebih tepat untuk kelompok ternak yang besar dikandang dan terprogram pemberian pakannya
  8. Progestagen sintetik yaitu melengestrol Asetat (MGA) dan Medroxiprogesteron (MPA), namun lebih bagus MGA daripada MPA.
  9. Pemberian lewat pakan selama 15-18 hari dan birahi terjadi 3-5 hari kemudian setelah penghentian perlakuan.
  10. Fertilisasi rendah (42%) dan menjadi 82 % pada estrus berikutnya.
  11. Pemberian esterogen dan gonadotropin menghambat MGA, fertilisasi tetap rendah (Ismaya, 1998).
  12. Implan silastik
  13. Implan silastik yang mengandung MGA ditanam dibawah kulit leher atau dibawah kulit luar telinga selama 22-64 hari
  14. 36-72 jam setelah penghentian perlakuan terjadi birahi 64 % (Ismaya, 1998).
  15. Spons intravagina
  16. Progesteron juga dapat dimasukan ke vagina dengan memakai spons, diharapkan dapat menghasilkan estrus yang baik.
  17. Pemasangan spons selama 18-21 hari dan birahi akan tampak 24-72 jam setelah pengambilan spons dari vagina.
  18. Kelemahan: spons sering berubah tempat, kerusakan mukosa vagina dan serviks.
  19. Progesteron releasing intra vagina device (PRID) adalah alat intravagina pelepas progesteron dengan speculum pada bagian vagina anterior (Ismaya, 1998).
  20. Dengan penyuntikan PMSG (750-2000 IU) sebelum dan sesudah pengeluaran spons dapat meningkatkan birahi dan fertilisasi (Ismaya, 1998).
  21. Progestagen dalam waktu singkat
  22. Untuk meningkatkan fertilisasi prostagen diberikan 9-12 hari saja.Ø
  23. Sebelumnya disuntikan 5-7,5 mg EB dan 50-250 mg progesteron dan setelah penghentian perlakuan, maka 56 jam kemudian birahi dan dapat di IB (Ismaya, 1998).
  24. Injeksi prostaglandin PGF 2alfa
  25. Publikasi pertama mengenai terapi prostalglandin baru muncul tahun 1970 dan terus berkembang sejalan ditemukannya analog prostaglandin.
  26. Lebih sederhana dan mencegah menurunya fertilisasi.
  27. Penyuntikan intra muskular tunggal untuk fase luteal dan ganda (10-12 hari) untuk yang heterogen fasenya, IB dilakukan 58-72 jam atau 72 dan 96 jam (IB Ganda)

F. Metoda sinkronisasi pada beberapa spesies :

  1. Pada Babi

Bahan yang digunakan adalah bahan kimia bukan steroid yang diberikan melalui ransum selama 20 hari. Setelah itu pemberian dihentikan dan 5 hari setelah penghentian akan terjadi estrus secara serentak.
Selain itu bisa juga digunakan PGF2 alpha melalui suntikan intra muskuler dengan dosis 8 mg/ekor,ini dilakuka pada hari ke 12 dari siklus berahi maka berahi akan muncul 1-3 hari kemudian.

  1. Pada Domba

Sinkronisasi pada domba dapat dilakukan dengan dua cara:

  1. Pemberian progesterone dengan suntikan intra muskuler,intra vena, dan intra vagina. Melalui intra vagina adalah dengan jalan mencelupkan spons yang telah berisi larutan progesterone dan dimasuk kan kedalam saluran reproduksi betina yang tidak bunting selama 14-19 hari. Spons ini berbentuk bulat panjang sebesar ibu jari dengan panjang nya sekitar 4 cm dan dibelakangnya diikat dengan tali nilon. 2 hari setelah penarikan spons yang berisi progesterone dan diserap oleh vagina sehingga masuk keperedaran darah dan menekan kejadian berahi,berahi akan terjadi 1-3 hari kemudain.
    Secara fisologis,setelah penarikan spons makan suplay progesterone akan terhenti ini menyebabkan ransangan pada hipofisa untuk mengeluarkan FSH dan LH,selanjutnya folikel akan tumbuh pata taraf yang matang sehingga terjadilah estrus.
  2. Pemberian PGF2 alpha. Secara umum dilakukan dengan suntikan intra muskulerdengan dosis 6-8 mg/ekor.Berahi akan muncul 1-3 hari kemudian.
  3. Pada Sapi

Pada sapi sering digunakan PGF2 alpha yang berfungsi menghancurkan korpus leteum yang sedang berfungsi dan tidak efektif pada korpus luteum yang sedang tumbuh. Pada dasarnya korpus luteum tumbuh pada 0-5 hari setelah estrus dan pada hari 6-16 korpus luteum berfungsi. Cara penyuntikan PGF2 alpha
a) Penyuntikan satu kali

Pada cara ini sebua betina yang tidak bunting disuntik dengan PGF2 alpha,estrus akan terjadi 1-3 hari kemudian. Secara teori kebrhasilan cara ini sekitar 75% kerena diperkirakan 25% ny masih berada pada kondisi estrus sampai 5 hari setelah estrus.untuk mendapatkan hasil 100% maka diperlukan penyuntikan kedua.

b) Penyuntikan dua kali

Semua betina yang tidak bunting disuntik dengan PGF 2 alpha, kemudian penyuntikan diulangi lagi pada hari kesebelas (11).Berahi terjadi secara serentak 1-3 hari kemudian dan 100% berahi. Dosis PGF 2 alpha adalah 5 – 35 mg/ekor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *