Home / Cerpen / SAHABATKU ADALAH PAHLAWANKU
Sahabatku Adalah Pahlawanku

SAHABATKU ADALAH PAHLAWANKU

Di dunia dengan gelap ini, aku melihat tentara Belanda sedang membakar rumahku. Aku berada di semak-semak gelap melihat rumah dan keluargaku di dalam rumah terbakar itu. Aku takut, marah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah budak yang hanya bekerja untuk para penjajah sialan ini. Tetap saja aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah hidupku akan seperti ini seterusnya. Kapan aku bisa berubah. Inilah perjalananku.

Namaku Hardi, sudah beberapa bulan sejak para penjajah belanda membakar rumahku dan menjadikanku budak. Sekarang aku berada di tambang untuk mengambil batu bara untuk  mereka. Setiap kali aku berhenti bergerak mengayunkan cangkulku, mereka melibasku. Jadi aku harus tetap mencangkul dan cangkul dengan sangat lelah. Malam pun tiba, kami diasingkan di sebuah ruangan kumuh yang terkhusus tempat bagi kami. Kami hanya diberi makan sebuah roti dan dibagikan kepada kami. Tentu saja itu tidak akan mengenyangkan dan tidak sepadan dengan apa yang kami kerjakan.

Di sampingku, aku melihat orang yang terus menatapku sambil menyantap sepotong rotinya. Tentu hal itu membuatku risih dengan tatapannya.

Kemudian dia memotong sebagian rotinya dengan tangannya dan berkata kepadaku “Ayolah ambillah punyaku”.

Aku pun refleks menolak permintaan orang tersebut. Kami di sini masing-masing lapar dengan yang diberikan para penjajah itu kepada kami, lalu ada satu orang yang sok kenyang dengan memberikan rotinya kepadaku?. Tentu hal tersebut membuatku aneh

Kemudian dia, mengambil rotinya kembali dan memakannya, lalu mengangkat tangannya kemudian berkata

“Halo sahabatku namaku Gadhing senang berkenalan denganmu”

Menandakan dia hanya ingin berkenalan denganku dan menjabat tanganku. Aku pun merespon tindakannya dengan menjabat kembali tangannya, lalu berkata.

“Senang bisa berkenalan, namaku Hardi dan Halo untukmu”

Itu ucapanku dengannya. Kemudian kami terus berbicara tentang kami dan hal-hal yang kami ketahui. Dia Gadhing berasal dari Solo dengan impiannya yaitu membangun panti asuhan. Tentu saja itu membuatku geli mendengarnya. Sepertinya, dia tidak tahu diri kondisi kita para budak penjajah saat ini.

Lalu dia berkata “ Aku akan menghancurkan tambang ini dan membebaskan kita semua”.

Tentu hal itu terdengar hanyalah omong kosong belaka. Malam semakin larut, lalu kami pun tidur di lantai yang dingin ini.

Pagi hari, para penjajah itu melibas dan menendang kami hanya untuk membangunkan kami. Kami pun dengan secepatnya mengambil posisi untuk bekerja kembali sebagai budak mereka. Kami keluar dari ruangan dan melihat matahari masih belum terbit. Kami hanya bisa mengangguk dan menahan lelah kami. Dari sudut pintu terlihat budak yang hendak melawan mereka.

Di situ aku melihat dan ternyata budak itu adalah Gadhing. Sontak aku pun menghampiri mereka dan berkata

“Tolong maafkan kami, dia adikku dia mengalami penyakit kejiwaan, aku yang bertanggung jawab” kepada para penjajah dengan bahasa Belanda.

Raut mereka seakan tenang tetapi dengan wajah memangsa.

“Kau yang bertanggung jawab! Ayo ikut kami!”.

Aku pun ikut dengan mereka dengan memberi isyarat kepada si Gadhing

“Jangan melakukan hal tidak-tidak lagi” dan aku melihat wajah penyesalannya.

Aku pun diseret mereka dan memaksaku memasuki ruangan. Tentu saja di ruangan itu aku mendapat beberapa pukulan dan libasan sebagai hukuman menentang mereka. Beberapa jam aku keluar dan dipaksa terus untuk bekerja lagi.

“Sungguh Sial” itulah yang kupikirkan sekarang.

Aku pun kembali menggali tambang dengan seseorang yang menghampiriku, lalu dia menggali bersamaku. Ternyata dia si Ghadhing yang sempat berkonflik dengan mereka.

“Maafkan aku kawan” ujar dia”.

“Cukup dengan perkataan maafmu dan jangan berbuat apa-apa lagi” dengan tegas aku berkata begitu agar dia tidak bermasalah lagi. Lalu dia pun berjanji akan membalas kebaikanku.

Aku pun menyahutnya “Ayolah kembali bekerja” seakan- akan dia bercanda denganku

Malam itu pun tiba kami kembali dengan istirahat yang menyiksa kami. Hanya sepotong roti kemudian tidur dan bekerja.

Malam itu pun si Ghadhing berkata kepadaku “Besok kami akan melancarkan misi dan menghancurkan tambang ini”.

Aku pun cuma berkata Oke, Oke dan Oke dengan menganggap dia ternyata mempunyai penyakit kejiwaan. Dia pun berkata bahwa dia sebenarnya mata-mata dari pejuang kemerdekaan Indonesia.

Aku pun menyahutnya” Sudahlah ayo kembali tidur” dengan mendengar omong kosongnya. Tentu saja di berkata heroik dengan tubuhnya yang kurus kerempeng dan wajah yang kotor.

Kemudian aku mengalihkan percakapan dengan berkata “Aku mempunyai impian yaitu bisa memakan daging yang sedap dan enak”.

Dia pun tertawa dan berkata ”Itu akan terwujud sobat”.

Mendengar itu membuat hatiku ingin menangis dan aku menahannya. Malam berlarut dan aku pun tidur. Keesokan harinya sebelum matahari terbit. Terdengar suara ledakan yang dahsyat dari ujung jendela yang lain ke jendela yang lain. Pintu kami pun meledak dan terbuka dengan lebar. Kami semua begitu terkejut dan heran. Lalu Ghadhing datang secara heroik di pintu terbuka “Ayolah ini kebebasan kita, para tentara Indonesia datang membebaskan kita”.

Sontak semua budak semangat api membara dan berteriak keluar dengan berkata “Indonesia Merdeka”.

Aku hanya bisa diam dan terheran, lalu Gadhing mengangkat tangannya dan mengajakku keluar “Ayo berdirilah jenius!” sahutnya dengan percaya diri.

Aku pun dengan semangat meresponnya dan kami ikut bersama keluar dari pertambangan ini. Setelah kami telah keluar dari ruangan itu terlihat para tentara Indonesia dan Belanda saling tembak menembak dan saling membom musuhnya.

Aku pun hanya dapat berkata ”Waww” .

Ghadhing pun mengajakku ke ruang senjata untuk mengambil beberapa senjata lawan. Kami pun menuju ke sana dengan penjagaan nol, alias tentara Belanda seluruhnya sibuk berperang. Kami pun mengambil senapan dan senjata- senjata penting lainnya.

Kami pun dengan cepat mencari tentara Indonesia yang ingin membebaskan kami, tetapi itu sulit karena di setiap tempat ada tentara Belanda. Kami pun berlari dan bersembunyi untuk menghindari perang dan lolos dengan tidak ada masalah. Tetapi di tengah pelarian kami tentara Belanda melihat kami dan menembaki kami.

Kami pun berlindung di bawah tumpukan gandum. “Sialan itu tentara Belanda” sahut Ghadhing dengan wajah kesal.

Kami pun membalas tembakan mereka dengan senapan kami. Tentu saja aku takut dan tidak pernah sama sekali memegang senjata dan tidak pernah mengenai mereka. Tapi Ghadhing telah berhasil menembaki 3 orang Belanda. Di situlah aku sadar bahwa sebenarnya aku yang mengalami penyakit kejiwaan karena tidak memercayai si Ghadhing.

Tentara Belanda pun berdatangan dan menembaki kami. Kami terjebak dan harus mengalahkan semua tentara Belanda itu. Tetapi dari arah lain, tentara Indonesia muncul membantu kami. Satu persatu tentara Belanda berhasil dikalahkan, kami pun pergi dengan gerombolan tentara Indonesia.

Terlihat Ghadhing dengan serius berbicara-bicara dengan tentara Indonesia sambil kami menuju ke jalan keluar. Dari jalan keluar terlihat banyak tentara Indonesia dan para budak lainnya berkeluaran. Dengan suara bom sana sini dan tembakan yang banyak kami berusaha menuju ke pintu keluar. Kami pun berlari dengan kencang-sekencang mungkin. Tiba- tiba tentara Belanda datang dengan menembaki kami. Satu persatu tentara Indonesia berjatuhan.

“Pergilah” dengan bangga mereka menyebutkan itu sambil tergeletak tertembak.

Aku pun terus berlari dan akhirnya ada yang mendorongku. Aku pun melihat ke belakang ternyata si Gadhing yang mendorongku dengan keadaan ia tertembak. Sontak aku pun terkejut dan refleks menghampirinya tetapi tentara Indonesia mencegatku dan menarik aku menuju jalan keluar.

Aku pun berlari sambil menangis dengan hati yang kesal. Kami pun berhasil menuju jalan keluar dan diangkut dengan mobil. Kami pun para budak berhasil kabur dan tentara Indonesia terus berperang di tambang tersebut. Mobil tersebut terus berjalan dan aku hanya bisa terdiam dan menangis karena pengorbanan sahabatku yang terbaik. Kami pun menuju markas tentara Indonesia untuk diamankan.

Terlihat rautan wajah para pekerja budak yang lelah dan sedih karena perjuangan menuju kebebasan. Banyak yang meninggal dan banyak yang terselamatkan. Inilah perjuangan untuk mencapai kemerdekaan negeri ini.

Beberapa tahun sudah terlewati dan aku mempunyai perusahaan karangan novel dan Indonesia sudah merdeka. Sungguh aku sangat bersyukur untuk hidupku sekarang ini. Indonesia menang melawan penjajah dan menjadi negara berdaulat dan bebas dari penjajah. Aku pun tak henti mengucapkan kalimat syukurku kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aku pun membangun sebuah panti asuhan di sebelah tempatku bekerja.

Nama panti asuhan itu adalah GHADING.

 

END…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *