Home / Cerpen / Pertengkaran Dua Orang Pria di Sebuah Desa
Pertengkaran Dua Orang Pria di Sebuah Desa

Pertengkaran Dua Orang Pria di Sebuah Desa

Di sebuah desa hiduplah dua orang pria yang satu adalah bernama Ghading dan yang satu lagi bernama Kevin. Mereka hidup berdampingan di tempat yang sama, tetapi mereka sangat membenci satu sama lain dan selalu bertengkar walaupun untuk hal yang sepele.

Suatu hari, Ghading sedang berjalan-jalan di hutan untuk mencari buah-buahan di pohon. Ia akhirnya menemukan pohon apel yang bagus dan buahnya lebat.

“Wah, buah ini warnanya cantik. Belum pernah aku melihat pohon apel dengan warna merah terang seperti ini. Rasannya pasti sungguh nikmat. Bolehlah aku mengambil buah apel di pohon ini” katanya seraya memetik pohon apel satu per satu untuk dimasukkan dalam keranjang.

Ketika sedang asyik memetik buah, datanglah Kevin yang langsung menegurnya.

“Hey kamu, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hendak mengambil buah di pohon ini semua” jawabnya.

“Tidak boleh! Tak tahukah kamu bahwa pohon ini milikku?” kata Kevin.

“Mustahil. Lihat saja, pohon ini berada di tengah hutan, tak bernama dan tak bertanda ini milikmu! Tak perlulah kamu mengaku-aku. Semua orang di desa ini boleh saja memiliki dan memetiknya!” kilah Ghading.

“Tidak bisa, ini pohon berada sejalur dengan rumahku. Jadi pohon ini lebih pantas menjadi milikku!” sangkal Kevin.

“Itu hanya alasanmu saja, lagi pula pohon ini jauh dari rumahmu, tidak ada tanda dan pembatas bahwa ini pohon dan tanah milikmu. Dasar kau orang yang sangat licik!”

“Tidak, kau yang lebih licik!”.

Begitulah perseteruan tersebut hingga akhirnya seorang Kakek Tua menghampiri mereka. Ternyata Kakek ini adalah orang yang sangat dihormati di desa dan bijaksana.

“Apa yang sekiranya kalian permasalahkan, wahai anak-anak muda?” tanyanya.

“Tuan, lihatlah orang yang licik ini dia mengaku-aku bahwa pohon ini miliknya. Padahal, lihat saja tidak ada tanda di pohon bahwa ia memilikinya. Semua orang desa boleh saja memiliki dan memetik buah di pohon ini!” kata Ghading.

“Namun, Tuan pohon ini berada sejalur dengan arah rumahku. Itu menandakan bahwa pohon ini milikku!” Kevin membela diri.

Kakek tersebut berpikir sejenak.

“Aku memiliki saran yang baik. Apakah kalian bersedia melakukannya?” tanya Kakek tersebut.

“Ya, Tuan. Kami percaya Kakek adalah orang yang bijaksana dalam hal ini” kata mereka.

“Hmmm… baiklah jika demikian. Hai kau Ghading, tanamlah sendiri pohon buah untukmu sendiri di petak tanah sekitar rumahmu. Sedangkan kau Kevin, tanamlah sayur-sayuran di wilayah sekitar rumahmu juga”.

“Kutambah lagi, kau Ghading, kumpulkanlah dan rawatlah pohon dengan buah-buahan yang ada di hutan ini. Sebaliknya, kau Kevin, kumpulkan dan rawatlah sayur-sayuran yang ada di hutan ini. Dengan demikian semuanya menjadi jelas. Bila buah adalah milik Ghading dan sayur milik Kevin.” Lanjut kakek yang bijaksana.

“Ada baiknya kalian juga masing-masing membangun lumbung untuk menjaga hasil panen kalian. Simpanlah yang banyak dan berjaga-jagalah supaya masing-masing dari kalian tidak ada yang bisa mencuri,” lanjut Kakek tersebut.

Kedua pria tersebut mengangguk dan kembali ke tempat masing-masing untuk melakukan apa yang disarankan oleh Kakek tersebut itu.

Lama waktu berselang, tiba-tiba terjadilah musim kemarau panjang yang membuat tanaman di wilayah tempat mereka itu tidak bisa tumbuh dengan baik. Ghading dan Kevin kembali menemui Kakek yang bijaksana tersebut untuk mendapatkan solusi.

“Tuan, engkau tahu bahwa kemarau ini sungguh merugikan bagi kami. Lihatlah Tuan, buah-buahan tidak lagi tumbuh di tempatku. Bagaimana mungkin kami bisa melewati masa kering ini tanpa makanan?” tanya Ghading.

“Ya, Tuan. Begitu pun di tempatku. Tanah di rumahku mengering, sayur yang tumbuh sungguh jelek dan tidak bisa saya makan,” tambah Kevin.

“Aku mengerti, engkau tahu bahwa aku menyarankan kalian untuk menyimpan hasil buah dan sayuran di lumbung masing-masing. Apakah sudah engkau lakukan?” tanya Kakek Tua tersebut.

“Sudah, Tuan. Kami memiliki cukup banyak sayur di lumbung. Namun, saya tidak bisa hidup hanya dengan makan sayuran saja, Tuan,” kata Kevin.

“Buah-buahan saya pun berlimpah. Tetapi, saya juga tidak bisa mencukupi kebutuhan dengan hanya makan buah-buahan, Tuan,” kata Ghading.

“Anak muda, lihatlah. Betapa indahnya bila kalian bisa berbagi. Wahai Ghading, bagikanlah buah-buahan engkau untuk tetanggamu ini Kevin. Begitu juga sebaliknya, kau Kevin berikanlah sayur-sayuranmu untuk tetanggamu ini juga Ghading. Dengan demikian, masing-masing dari kalian dapat memenuhi kebutuhan pangan kalian masing-masing,” ucap Kakek tersebut.

“Baiklah kalian berdua saling berdamai. Akhirilah pertengkaran kalian selama ini. Hidup akan lebih indah bila kalian bisa saling bekerja sama dan berbagi,” ucap Kakek tersebut menambahkan.

Ghading dan Kevin pun hanya bisa berpandangan dan tertunduk malu atas perseteruan mereka selama ini.

“Maafkan aku kawan, seharusnya kita tidak bertengkar karena masalah ini. Ambillah sebagian dari buah-buahan di lumbung kebun saya untuk engkau dan bagi-bagikanlah dengan kawanmu,” kata Ghading.

“Terima Kasih, kawan. Aku pun meminta maaf telah bermusuhan denganmu”

“Ambil jugalah sebagian sayur-sayuran milikiku untuk bisa kau lengkapi makananmu,” jawab Kevin.

Akhirnya mereka saling berdua meminta maaf dan mulai berbagi makanan satu sama lainnya. Demikianlah kehidupan di desa itu untuk menjadi jauh lebih indah dengan berdamainya dua pria tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *