Home / Opini / PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN LITERASI MASYARAKAT INDONESIA
PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN LITERASI MASYARAKAT INDONESIA

PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN LITERASI MASYARAKAT INDONESIA

Pustakawan merupakan pejuang literasi bangsa yang dituntut untuk memberikan contoh baik, khususnya yaitu dalam budaya membaca dan menulis. Menulis merupakan kegiatan intelektual pustakawan yang banyak memberikan manfaat.

Hal tersebut dilakukan agar literasi masyarakat Indonesia yang masih dianggap rendah dapat meningkat melalui peran aktif pustakawan di Indonesia. Pustakawan merupakan tenaga profesional perpustakaan yang dituntut untuk senantiasa mengembangkan potensi diri dan profesinya secara berkelanjutan.

Berdasarkan survei  John W. Miller (President of Central Connecticut State University In New Britain, Conn), diketahui bahwa perilaku literasi seperti membaca dan menulis masyarakat Indonesia hanya di atas satu tingkat dari Bostwana yang menjadi peringkat ke 61 (Straus, 2016).

Data literasi yang lain juga dapat dilihat pada media masa Republika Online (15 Desember 2014), yang mana bahwa kondisi literasi masyarakat di Indonesia masih sangat rendah. Hal tersebut terlihat dari salah satu hasil survei penelitian yang dilakukan oleh Programme For International Student Assessment (PISA) tahun 2010 dan 2012, dijelaskan bahwa:

(1) pada tahun 2010 tingkat pembaca siswa, Indonesia urutan ke 57 dari 65 negara. Dalam kasus ini tidak ada satu pun di Indonesia yang meraih nilai literasi di tingkat kelima, hanya 0,4% siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat ke empat, selebihnya di bawah tingkat tiga atau bahkan di bawah tingkat satu;

(2) pada tahun 2012 tingkat literasi masyarakat Indonesia menempati urutan ke 64 dan 65 negara di dunia, Indonesia di atas 1 tingkat Bostwana dan ini merupakan hal yang terburuk terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia.

Melihat kondisi di atas, pemerintah (dalam hal ini Perpusnas RI) harus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Dwiyanto (2007) mengatakan bahwa Perpusnas RI telah memasukkan program literasi informasi ke masyarakat dalam bagian dalam Rencana Induk Perpustakaan Nasional tahun 2006- 2015. Program literasi tersebut dilaksanakan dalam bentuk kegiatan:

(1) penyelenggaraan lomba-lomba penulisan, baik berupa hibah penelitian bidang kepustakawanan, lomba membaca dan menulis karya populer, penulisan artikel, dan resensi buku;

(2) menyelenggarakan “kampanye” gerakan minat baca ke masyarakat;

(3) pembukaan layanan terbuka bagi masyarakat yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi yang memadai;

(4) mengoptimalkan layanan perpustakaan keliling dengan sistem penjadwalan yang jelas dan dilengkapi dengan teknologi informasi yang memadai;

(5) pengembangan website PNRI http://www.pnri.go.id yang menyediakan konten informasi dan database open access dan gratis untuk kepentingan pendidikan dan penelitian;

(6) penyelenggaraan kegiatan pelatihan, seminar, dan kajian-kajian mengenai literasi informasi;

(7) melakukan pembinaan-pembinaan ke daerah dan masyarakat terkait dengan literasi informasi.

Setelah program-program literasi masyarakat di atas diketahui pustakawan, langkah berikutnya adalah menyiapkan kompetensi dan strategi untuk menyukseskan program literasi masyarakat yang telah direncanakan oleh Perpusnas RI.

Kompetensi literasi pustakawan disiapkan dalam rangka mencapai target dan tujuan literasi masyarakat, yaitu melek teknologi dan informasi. Kompetensi literasi pustakawan yang dimaksud adalah literasi global (global literacies).

Zaini (2010) menjelaskan kompetensi global literacies dari perspektif kepimimpinan (leadership) di dunia pemasaran/bisnis. Menurutnya kompetensi literasi global ada empat, yaitu personal literacy, social literacy, bussiness literacy, dan cultural literacy. Penerapan kompetensi literasi global ke pustakawan sebagai berikut.

  1. Personal literacy, kompetensi yang berkaitan dengan intropeksi diri. Pustakawan harus mampu mengevaluasi dirinya sendiri sebelum memberikan pelayanan informasi kepada pengguna, mampu atau tidak?
  2. Social literacy, kompetensi yang berkaitan dengan pemahaman terhadap realitas kehidupan sosial masyarakat yang dilayaninya. Dalam hal ini, pustakawan dituntut lebih aktif bersosialisasi dan berbagi pengetahuan dengan pengguna.
  3. Bussines literacy, kompetensi yang berkaitan dengan personal branding pustakawan dan lembaganya. Literasi ini dapat diterapkan dengan pendekatan bisnis/pemasaran.
  4. Culture literacy, kompetensi literasi yang terkait dengan kemampuan pustakawan untuk memahami karakteristik, perilaku, kebiasaan, dan budaya masyarakat yang dilayani. Pustakawan harus memberikan pelayanan secara prima kepada siapa pun, tanpa adanya sikap diskriminasi kepada pengguna.

Keempat kompetensi literasi global di atas menjadi bekal pustakawan untuk melaksanakan program-program literasi ke masyarakat. Ada beberapa strategi yang perlu dilaksanakan oleh pustakawan agar program-program literasi informasi berhasil dan bermanfaat bagi orang lain/masyarakat, antara lain:

  1. Melakukan evaluasi diri sebagai motivator literasi Evaluasi diri dilakukan dalam rangka mengetahui kemampuan dan pengetahuan pustakawan terhadap isu-isu literasi yang berkembang di masyarakat. Program literasi yang disampaikan pustakawan harus tepat sasaran agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
  2. Mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna potensial 20 Pengguna potensial yang dimaksud adalah pengguna atau masyarakat yang sangat membutuhkan jasa pustakawan dan perpustakaan. Untuk mengetahui pengguna potensial, pustakawan harus melakukan survei atau profiling lembaga yang bersangkutan..
  3. Menetapkan materi ajar literasi informasi sesuai kebutuhan pengguna Materi merupakan bahan baku informasi yang akan disampaikan kepada pengguna/masyarakat. Pustakawan harus menyiapkan materi literasi dalam format yang menarik dan aplikatif. Materi literasi ini sangat menentukan keberhasilan program literasi informasi yang disampaikan ke pengguna/masyarakat.
  4. Membangun kerjasama berbasis kemitraan secara berkelanjutan Hal ini perlu dilakukan pustakawan dalam rangka meningkatkan jaringan kerjasama dengan perpustakaan dan stakeholders. Sistem kerjasama dilaksanakan dengan sistem kemitraan (saling menguntungkan) dan berkelanjutan. Apabila hal ini dapat terwujud, maka program-program literasi yang dirancang pustakawan dianggap telah berhasil.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa literasi informasi masyarakat dapat dibangun melalui budaya membaca dan menulis masyarakat yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.

Pustakawan sebagai pejuang literasi bangsa harus menyiapkan program-program inovatif yang terkait dengan literasi perpustakaan dan masyarakat, serta mampu memberikan contoh-contoh nyata melalui karya tulis bidang kepustakawanan. Pustakawan dapat menjadi motivasi bagi anak-anak bangsa di Indonesia.

Dari beberapa fakta di atas jelas bahwa menulis dan membaca adalah suatu perjuangan untuk meningkatkan literasi di Indonesia yang masih tergolong sangat rendah. Dengan membaca dan menulis akan meningkatkan intelektual bangsa Indonesia.

Melalui tulisan, para penulis akan mendapatkan banyak manfaat khususnya yang terkait dengan pengembangan profesi dan pengakuan status dan eksistensi profesi di masyarakat.

Pustakawan adalah pejuang dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia sehingga melalui pustakawan tercapainya tujuan dari program literasi yang diselenggarakan pemerintah. Tidak ada lagi alasan mengapa seseorang tidak menulis? Menulis bagi seorang penulis bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu keharusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *