Home / Opini / Peran Milenial Dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia Dalam Program Sustainable Development Goals (SDGs)
Peran Milenial Dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia Dalam Program Sustainable Development Goals (SDGs)

Peran Milenial Dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia Dalam Program Sustainable Development Goals (SDGs)

Isu kemiskinan tetap menjadi isu penting bagi negara-negara berkembang, demikian pula dengan Indonesia. Penanganan persoalan kemiskinan harus dimengerti dan dipahami sebagai persoalan dunia, sehingga harus ditangani dalam konteks global pula.

Sehingga setiap program penanganan kemiskinan harus dipahami secara menyeluruh dan saling interdependen dengan beberapa program kegiatan lainnya.

Dalam SDGs dinyatakan no poverty (tanpa kemiskinan) sebagai poin pertama prioritas. Hal ini berarti dunia bersepakat untuk meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Saat ini kita memasuki era SDGs (sustainable development goals), yang dimulai dengan pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 25-27 September 2015 di markas besar PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), New York, Amerika Serikat. Acara tersebut merupakan kegiatan seremoni pengesahan dokumen SDGs (Sustainable Development Goals) yang dihadiri perwakilan dari 193 negara.

Seremoni ini merupakan lanjutan dari kesepakatan dokumen SDGs yang terjadi pada tanggal 2 Agustus 2015 yang juga berlokasi di New York. Saat itu sebanyak 193 negara anggota PBB mengadopsi secara aklamasi dokumen berjudul ”Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development”.

Dokumen SDGs pun dicetuskan untuk meneruskan dan memantapkan capaian-capaian MDGs sebelumnya agar langgeng dan berlanjut seterusnya     .

SDGs memiliki 5 pondasi utama yaitu manusia, planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan yang ingin mencapai tiga tujuan mulia di tahun 2030 berupa mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi perubahan iklim.

Kemiskinan masih menjadi isu penting dan utama, selain dua capaian lainnya. Untuk mencapai tiga tujuan mulia tersebut, disusunlah 17 Tujuan Global berikut ini.

17 (tujuh belas) Tujuan Global (Global Goals) dari SDGs

  1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
  2. Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
  3. Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan. Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.
  4. Pendidikan Berkualitas. Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.
  5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan..
  6. Air Bersih dan Sanitasi. Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang.
  7. Energi Bersih dan Terjangkau. Menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang.
  8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
  9. Industri, Inovasi dan Infrastruktur. Membangun infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi.
  10. Mengurangi Kesenjangan. Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara maupun di antara negara-negara di dunia.
  11. Keberlanjutan Kota dan Komunitas. Membangun kota-kota serta pemukiman yang inklusif, berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.
  12. Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab. Menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola produksi.
  13. Aksi Terhadap Iklim. Bertindak cepat untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.
  14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.
  15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
  16. Institusi Peradilan yang Kuat dan Kedamaian. Meningkatkan perdamaian termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh tingkatan.
  17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Bagi Indonesia sendiri, kemiskinan masih merupakan persoalan yang menjadi beban berat, terutama dikaitkan dengan isui kesenjangan yang semakin melebar antara si kaya dan si miskin.

Upaya pemerintah untuk mengatasi kemiskinan secara integratif sebetulnya sudah dilakukan sejak tahun 1995, yaitu dengan dikeluarkannya Inpres Desa Tertinggal. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan telah membentuk Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Upaya nasional ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih menjadi masalah yang serius. Bahkan pemerintah pusat telah merealisasikan penyaluran dana desa tahap pertama kepada pemerintah desa, sekitar 47 triliyun.

Dana desa tersebut telah disalurkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Setelah disalurkan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) bertugas mengawal prioritas penggunaan dana desa agar sesuai dengan Peraturan Menteri yang telah ditetapkan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa, dana desa di tahun 2016 ini digunakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Pada akhir abad 20 kurang lebih sebanyak 2,8 milyar penduduk penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah $2 per hari atau 1,2 milyar pend$1,25 per hari. World Bank sendiri memperkirakan pada tahun 2005 penduduk miskin ini sebesar 1,3 milyar yang 95% tersebar di 119 negara  sedang berkembang.

Melalui program dalam rangka mencapai target MDG’s jumlah penduduk miskin ini berkurang menjadi 900 juta pada tahun 2010 . Jika target MDG’s tercapai maka jumlah penduduk dunia akan menjadi 600 juta pada tahun 2015.

Pada tahun 2000 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 38,74  juta jiwa. Jumlah ini terus menurun hingga pada tahun 2006 penduduk miskin di Indonesia naik menjadi 39,3 juta.

Meskipun jumlah penduduk miskin menunjukkan kecenderungan menurun, namun. hingga tahun 2013 secara absolut jumlah penduduk miskin di Indonesia masih sangat besar (28,55 juta jiwa).

Kenaikan jumlah penduduk miskin pada tahun itu diduga erat kaitannya dengan penurunan subsidi BBM, yang berimbas pada kenaikan harga berbagai komoditas.

Di sisi lain daya beli masyarakat justru mengalami penurunan. Situasi ini berimbas pada jumlah penduduk miskin.

Kemiskinan mengindikasikan adanya ketidakmampuan orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar yang pada akhirnya membawa dampak ke berbagai permasalahan.  Kemiskinan akan mewariskan generasi yang kekurangan gizi, rentan terhadap penyakit, serta tidak mampu menikmati pendidikan.

Pada akhirnya kemiskinan akan mewariskan generasi yang menjadi penyandang masalah sosial, bahkan menjadi sumber masalah sosial. Itulah sebabnya kemiskinan pada akhirnya akan menjadi beban negara dan masyarakat hingga saat ini. Itu pulalah sebabnya kajian terhadap masalah kemiskinan masih sangat aktual untuk dilakukan.

Dari perspektif hak asasi manusia, adanya kemiskinan adalah tanggung jawab lingkungan, baik dari dalam hal penyebab maupun solusinya.

Oleh karena itulah berbagai kajian maupun upaya penanggulangan kemiskinan tidak hanya masih aktual, tetapi juga masih sangat dibutuhkan. Maka diperlukan peran milenial untuk mengentas kemiskinan yang ada di Indonesia dalam pencapaian tujuan dari Suiainable Development Goals (SDGs) .

Kaum milenial merupakan kaum yang paling melek dan paham teknologi yang pastinya bisa memanfaatkan dan mengembangkan teknologi-teknologi yang sudah ada sebelumnya, bahkan membuat teknologi-teknologi baru yang keseluruhannya tentu saja memiliki peran penting dalam mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) itu sendiri.

Contohnya adalah Online Shop ataupun Ojek online yang bisa meningkatkan ataupun menciptakan lapangan kerja sehingga meningkatkan penghasilan dan juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan.

Penciptaan lapangan kerja akan berpengaruh berkurangnya jumlah kemiskinan di Indonesia dan memberikan nilai hidup bagi orang-orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Kaum milenial memiliki peran yang sangat besar untuk mengentas kemiskinan di Indonesia

3 comments

  1. Kausar

    Artikelnya sangat bermanfaat

  2. Ceo

    Sangat menambah ilmu pengetahuan

  3. Abbas

    Mantap artikelnya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *