Home / Peternakan / PENYAKIT KETOSIS (ACETONEMIA) PADA TERNAK PERAH
PENYAKIT KETOSIS (ACETONEMIA) PADA TERNAK PERAH

PENYAKIT KETOSIS (ACETONEMIA) PADA TERNAK PERAH

A. DEFINISI

Ketosis merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan penimbunan benda-benda keton yaitu asam asetoasetat, β-hidroxibutirat dan hasil dekarboksilasinya (aseton dan isopropanol) di dalam cairan tubuh. Benda keton dapat tertimbun di dalam kemih (ketonuria), darah (ketonemia), dan air susu (ketolaksia). (Subronto, 2004)

B. EPIDEMIOLOGI

Acetonemia terdapat di seluruh dunia pada usaha peternakan sapi perah, dengan tingkat kejadian yang dilaporkan sangat bervariasi (2-10). Lebih kurang 10% ketosis dengan gejala klinis terjadi dalam minggu pertama dan 70% lebih dalam sebulan, setelah melahirkan. Kasus ketosis hampir selalu terjadi dalam waktu 6 minggu setelah melahirkan, pada saat fase laktasi menuju ke puncak produksi air susu.

Lebih kurang 30-40% ketosis klinis mengalami komplikasi oleh penyakit lain misalnya, metrirtis, retikuloperitonitis traumatik (RPT) dan displasia abomasum (BA). Ketiga gangguan tersebut paling tinggi diamati dalam 2 bulan setelah melahirkan.

Gangguan lain yang mungkin ditemukan bersama ketosis meliputi radang paru-paru, foot rot, gangreen gigi, kista ovari dan lain-lain, yang angka kejadiannya hanya kecil. Dari 120 ekor sapi penderita ketosis, diperoleh gambaran tentang penurunan produksi susu sebagai berikut. Tiga belas ekor tidak mengalami penurunan, 64 ekor turun 1-30 %, dan 14 ekor antara 30-40%.

Ketosis mungkin diderita oleh sapi yang berproduksi tinggi, dan atau kekurangan pakan scara serius. Di Michigan, Amerika Serikat, dalam survey terhadap 1032 sapi ditemukan hanya 11 kejadian saja yang disebabkan oleh kekurangan pakan.

Lebih dari 50% kejadian ketosis di Swedia terjadi di peternakan yang menggunakan pakan yang energi dan proteinnya lebih rendah dibanding dengan peternakan yang tidak memiliki kejadian ketosis. Di Indonesia kejadian ketosis jarang sekali dilaporkan.

Hal tersebut mungkin karena kurangnya penelitian, atau karena berlangsungnya secara subklinis. Kejadian penyakit tidak diketahui oleh pemilik saoi. Di daerah peternakan sapi perah tidak mustahil ketosis banyak dialami oleh sapi yang disebabkan oleh kekurangan pakan.(Anonim, 2008)

 C. MACAM-MACAM KETOSIS

  1. Ketosis Primer

Ketosis primer adalah kelainan metabolik yang terjadi apabila tidak disertai kondisi patologis lainnya. Terjadi karena sapi memperoleh pakan yang jumlahnya terlalu sedikit. Ketogenesis alimenter dan hepatik berlangsung lambat. Ketosis primer tidak disertai dengan kondisi patologis lainnya.

Gejala klinisnya yaitu produksi susu turun, lesu, tidak segera bergerak walaupun didorong-dorong. Akan segera sembuh jika penderita diberi pakan yang benar dan mencukupi.

  1. Ketosis Sekunder

Ketosis sekunder adalah dampak dari kelainan patologis lainnya seperti milk fever, mastitis, metritis, atau retensio sekundinarum. Dalam ketosis bentuk ini, meskipun jumlah pakan yang disediakan mencukupi tetapi sapi tidak mampu memakannya.

Gejala klinisnya yaitu nafsu makan turun, hipomagnesemia, hipoglisemia, gangguan fungsi hati.

  1. Ketosis Alimenter

Ketosis bentuk ini terjadi karena proses ketogenesis berlebihan, yang berasal dari asam butirat di dalam rumen dan omasum. Pakan yang diproses dalam bentuk silo, silase biasanya mengandung asam butirat yang tinggi karena adanya fermentasi aerobik yang berlebihan.

Asam laktat dapat bersifat ketogenik karena di dalam rumen diubah oleh mikroflora menjadi asam butirat. Terapi yang dilakukan adalah perbaikan susunan pakannya (rasio bahan pakan anti ketogenik : ketogenik berimbang, dapat dengan penambahan propilen glikol dalam ransumnya).

  1. Ketosis Spontan

Terjadi pada sapi-sapi yang dirawat dan diberi pakan yang kualitatif maupun kuantitatif mencukupi. Pembentukan asam asetoasetat di dalam kelenjar susu melebihi proses ketogenesis alimenter maupun hepatik.

Awalnya ketosis spontan bersifat subklinis, bisa berlangsung lama atau sembuh sendiri. Ketosis yang melanjut menjadi klinis disebut acetonemia. Pencegahan dilakukan dengan pengaturan susunan pakan yang dibutuhkan oleh kelenjar susu.

D. PATOGENESIS

Ketosis pada sapi diawali dengan gangguan metabolisme lemak, hingga terjadi hipoglikemia dan hiperketonuria. Ketosis terjadi pada sapi yang mengalami penurunan oksidasi karbohidrat dan diikuti oksidasi lemak, biasa ditemukan pada saat individu puasa.

Untuk memenuhi kebutuhan energi pada saat puasa maka lemak terpaksa dimobilisasi. Selain itu, ketosis juga terjadi pada sapi yang bunting karena kurangnya ketersediaan energi yang sangat dibutuhkan pada bulan terakhir masa kebuntingan.

Salah satu penyebab utamanya adalah kebutuhan glukosa yang meningkat untuk sintesa susu pada awal masa laktasi karena sapi akan memanfaatkan cadangan lemak tubuh sebagai sumber energi. Namun oksidasi asam lemak yang tidak sempurna terjadi dan terbentuk badan-badan keton, level gula darah turun, keton dalam darah meningkat dan terjadi infiltrasi lemak dalam jaringan hati. Faktor penyebab kunci terjadinya ketosis yaitu tidak cukupnya pasokan energi dan protein setelah sapi beranak.

 E. GEJALA KLINIS KETOSIS

Secara tipikal, kasus ketosis sering terjadi pada awal periode laktasi pada hewan khususnya sapi yang sedang dibahas dalam hal ini (Baird, 1982). Gejala klinis yang dapat diamati pada kasus ketosis ini pada ruminansia khususnya sapi yang sering terlihat pertama kali gejalanya adalah adanya penurunan nafsu makan (Anonim, 2008).

Selain itu gejala yang dapat teramati adalah hewan terlihat depresi, penurunan produksi air susu, dan adanya ketonemia, dimana gejala-gejala di atas berlangsung selama beberapa hari. Pada beberapa hewan, nafasnya akan tercium bau khas seperti aseton (Anonim, 2004).

Bau aseton yang tercium meskipun sebenarnya lebih mirip dengan bau metal-sulfida. Timbulnya bau manis atau bau aseton yang khas pada napas, susu, dan urin yang disebabkan karena abnormalitas akumulasi benda keton dalam darah dan jaringan.

Pemilik yang berpengalaman kadang dapat mengenal perubahan awal dari kelakuan sapi penderita dari nafas atau air susu yang khas tersebut. Gejala syarafi biasanya diamati dalam pemeriksaan yang berbentuk sebagai kelesuan penderita, tidak tanggap terhadap rangsangan suara maupun mekanis.

Biasa pula dijumpai adanya hipersalivasi, menjilat suatu objek berkali-kali, dan terlihat adanya gerak mengunyah. Otot-otot bahu dan pinggang mungkin tampak gemetar (hipertonia neuralis), yang hanya terlihat dalam 1-2 hari pertama kejadian penyakit.

Gangguan syarafi selanjutnya berjalan tanpa tujuan, inkoordinasi, dan mungkin menerjang objek-objek di depannya. Namun gejala syarafi hanya terjadi pada minoritas kasus ketosis dan tidak selalu terjadi pada setiap kasus (Anonim, 2008). Gejala syarafi yang demikian sering dikenal sebagai ketosis bentuk nervosa, akan berkurang dan hilang setelah penderita kehilangan nafsu makannya.

Gejala ketosis selanjutnya yang sering dikenal sebagai ketosis bentuk pencernaan (digesti) sangat bervariasi. Penderita mungkin masih mau makan hijauan, meskipun dilakukan sangat lambat, atau nafsu makannya hilang sama sekali. Produksi air susu berkurang, mulai dari ringan sampai berat derajatnya.

Kalau penderita sangat menurun nafsu makannya dalam beberapa minggu, penurunan sekresi air susu akan bersifat tetap karena rusaknya jaringan hati. Rumen yang mula-mula dalam keadaan penuhdalam beberapa hari akan menjadi kosong, dan tonusnya yang dalam keadaan awal gangguan meningkat berubah menjadi lemah.

Tinja yang dibebaskan biasanya keras dan terbungkus lendir, atau mungkin berbentuk cair. Karena kurangnya pakan dan air, penderita mengalami dehidrasi, kuli dan bulu tampak kusam, kering dan kurang elastis. Karena hilangnya nafsu makan dalam beberapa hari penderita merosot berat badannya.

Tanpa diobati 80% penderita asetonemia sembuh secara spontan dalam waktu 2-14 hari. Penderita yang tidak makan dala waktu panjang akan mengalami kerusakan hati yang permanen, hingga ketosis yang diderita berlangsung kronik. Sapi yang demikian tidak pernah dapat berproduksi sesuai dengan kemampuan maksimumnya. (Subronto, 2004).

F. PENGOBATAN (TERAPI)

Pengobatan yang dapat diberikan pada sapi yang mengalami ketosis yaitu :

  1. Pemberian larutan glukosa 50% 500 ml IV : untuk meningkatkan kadar glukosa dalam darah, mengurangi proses glukoneogenesis.
  2. Pemberian hormone insulin yang mempunyai kerja antiketogenik yang bagus. Selain untuk menurunkan benda keton darah, juga meningkatkan penggunaan glukosa darah.
  3. Pemberian Potassium chlorate.
  4. Pemberian Sodium propionate.
  5. Pemberian Propylene glikol
  6. Pemberian glukokortikoid secara injeksi : untuk menurunkan pemanfaatkan glukosa dalam jaringan.
  7. Pemberian senyawa-senyawa pembentuk glukosa secara oral seperti asam laktat 200-250 gr per hari, gliserol 450 gram diberikan 2 kali sehari, asam propionat 200-250 gram per hari, dan propilen glikol 240-300 gram diberikan 2 kali sehari tetapi pemebrian propilen glikol tidak efektif dibandingkan pemberian glycerol.
  8. Senyawa-senyawa lipotropik seperti Cholin, L-Methionin, Cysteamine HCl.
  9. Pemberian vitamin (vit. B12), tiroksin, dan kloralhidrat (untuk sapi yang mengalami gejala syarafi). Pemberian asam nikotinat 15-30 gram pada pertama serta pemberian vitamin A dan E diperuntukkan bagi sapi gemuk.

Karena glukosa banyak dikuras oleh kelenjar susu, untuk dapat menghentikan asetonemia maka sering dianjurkan untuk menghentikan pemerahan dan bahkan dianjurkan pula untuk memompakan udara ke dalam kelenjar susu (under insufflation).

Selain itu juga anjuran untuk memuasakan selama 3 hari pada penderita yang tidak gemuk. Sapi yang gemuk jangan dipuasakan karena akan menyebabkan timbulnya ketosis karena lapar namun diberikan saja senyawa lipotropik dan pemberian glukosa terus menerus sampai gejalanya benar-benar hilang. Dan yang perlu diingat bahwa penderita mungkin dapat mengalami kesembuhan secara spontan. (Subronto, 2004).

G. PENCEGAHAN

Tindakan terbaik yang dapat dilakukan adalah pemberian pakan yang sangat palatable yang akan menstimulasi pasokan bahan kering dan energi. Ketosis dapat dicegah dengan pemberian ransum seimbang pada masa awal laktasi dan memaksimalkan pasokan bahan kering pada ransumnya. Hendaknya sapi diberikan hijauan dengan kualitas yang baik terutama pada awal masa laktasi.

Perhatian khusus sangat diperlukan pada masa kering kandang, sapi tidak boleh terlalu gemuk. Pemberian niacin pada ransum 2 minggu sebelum melahirkan sampai dengan 10 hari setelah melahirkan dapat membantu mencegah terjadinya ketosis.(Subronto, 2004) Penambahan molasses dalam pakan selama beberapa minggu pertama laktasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *