Home / Opini / Peningkatan Soft Skill Pendidikan Di Indonesia

Peningkatan Soft Skill Pendidikan Di Indonesia

Pada dasarnya pengertian Pendidikan menurut UU Sidiknas No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilih kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dari defenisi tersebut Pendidikan di Indonesia belum teraplikasikan seluruhnya di instansi Pendidikan di Indonesia, karena dari defenisi tersebut disebut bahwa peserta didik harus memiliki keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (soft skill). Seperti kita tahu bahwa Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya memuhi definisi pendidkan menurut UU Sidiknas No.20 tahun 2003 tersebut.

Pada abad 21 ini, persaingan berbagai bidang sangat ketat. Pemerintah harus memikirkan sumber daya manusia di Indonesia yang kompetitif di kancah dunia internasional. Berdasarkan hasil riset dari United Nation and Development Program (UNDP), Indonesia berada di peringkat 110 dari 175 negara dalam kualitas sumber daya manusia, di bawah Malaysia (56) dan Vietnam (108). Salah satu indikatornya adalah Human Developmen Index (HDI) atau indeks daya saing bangsa yang merupakan salah satu hasil Pendidikan yang masih memprihatinkan. Pada tahun 2011 HDI bangsa Indonesia berada pada ranking 114 dari 117 negara yang diteliti, turun dari 113 pada tiga tahun terakhir ini. Untuk itu perlu pengelolaan yang baik untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada sekarang ini. Salah satu bidang yang perlu ditingkatkan adalah penanganan sumber daya manusia melalui Pendidikan. Dalam dunia kerja, 15%, keberhasilan seseorang ditentukan oleh pengetahuan dan ketrampilan teknisnya (hard skill) dan sisanya 85% ditentukan oleh keterampilan lunak (soft skill). Untuk memenuhi 85% kemampuan soft skill, mahasiswa dapat melakukan dan mengikuti berbagai kegiatan ekstra kulikuler yang dirancang perguruan tinggi.

Perguruan tinggi merupakan instansi Pendidikan yang dituntut menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, professional dan daya saing yang tinggi. Berbagai upaya telah dilakukan perguruan tinggi agar dapat memenuhi kualitas yang disyaratkan tersebut, seperti: kualitas belajar-mengajar, peningkatan saran-prasarana, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dan KKN, peningktan kualitas dosen dan peningkatan unit kegiatan kemahasiswaan.

Menurut Baedhowi (2008), ada empat strategi untuk meningkatkan hard skill dan soft skill mahasiswa yaitu: (1) integrase dalam pembelajaran, (2) pemberdayaan dosen (3)optimalisasi kegiatan mahasiswa (4) link and match dan kolaborasi dengan mitra kerja.

Dalam upaya meningkatkan hard skill dan soft skill mahasiswa harus terintegrasi dalam pembelajaran. Ada tiga ranah/Kawasan yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotori. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segaka upaya aktivitas otak adalah termasuk menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Tujuan ranah kognitif adalah berorientasi pada kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecah masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan ide, gagasan, metode atau proseduryang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup waktak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi , dan nilai. Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotorik ini sebernarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajat kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afktif ( yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Selama ini ranah yang paling banyak diupayakan adalah ranah kognitif, sehingga diperoleh hard skill yang lebih tinggi dibandingkan hasil ranh afektif dan psikomotrif. Hasil dari ramah tersebur tidak berkelanjutan di beberapa instansi Pendidikan. Kenyataan yang diperoleh adalah sumber daya manusai khususnya kualitas mahasiswa masih belum optimal. Hal ini dikarenakan bebrapa factor antara lain mahasiswa banyak dibekali pengetahuan tetapi sedikit pratek, kurang memadahi sarana dan prasarana, merosotnya mutu kegitan non akademik, kurangnya Pendidikan karakter bagi mahasiswa yang menyebabkan banyaknya kejahatan moral, narkoba, tawuran, perampokan, pergaulan bebas. Maka dari itu perlunya peran pemerintah untuk memfasilitasi perguruan tinggi agar berjalannya program perguruan tinggi dalam upaya peningkatan soft skill mahasiswa tersebut.

Factor HDI di indoensia juaga memperngaruhi soft skillnya para siswa dan mahasiswa di Indonesia. Kurang nya kulaitas Pendidikan di Indonseia yang selalu banyak mengupayakan hasil ranah kognitif dibangdingkan ranah afektif dan ranah psikomotik sehingga tidak seimbang dan tidak maksimalnya tujuan satandar kompetensi lulusan.

Untuk menimalkan dapak negative, maka dalam proses pembelajaran perlu dimasukkan dan disisipi pesan moral yang berpedoman dapa deskripsi nilai-nilai karakter bangsa yang dirumuskan Depdiknas (2010) yaitu nilai karakter Taqwa, jujur, disiplin, demokratis, adil , bertanggung jawab, cinta tanah air, orientasi pada keunggulan, gotong royong, menghargai , rela berkorban, dan beberapa indicator pada masing-masing nilai karakter tersebut.

Dalam rangka persaingan di dunia kerja, dibutuhkan sumber daya manusai yang berkulaitas. Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi yang menghasilkan dan mengembangkan sumber daya manusia mempunyai kewajiban untuk menyiapkan dan meningkatkan lulusannya agar mengikuti persaingan tersebut. Karena perguruan tinggi perlu memberikan kemamapuan hard skill dan meningkatkan soft skill mahasiswa. Hard skill diperoleh melalui materi perkuliahan yang mengembangkan ranah kognitif, sedangkan sof skill untuk mengembangkan ranah afektif dan psikomotorikyang diperoleh dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler melalui kursus-kursus bahasa Inggris, computer, mengikuti kegiatan kemahasiswaan, mengikuti program magang, belajar, berwirausaha, dan penggunaan metode-meotde pembelajran yang inovatif, maka anak mudah bangsa dapat efektif dalam berkonstibusi untuk negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *