Home / Opini / Pengaruh Menulis Karya Sastra Terhadap Perkembangan Anak-Anak Muda Di Indonesia
Pengaruh Menulis Karya Sastra Terhadap Perkembangan Anak-Anak Muda Di Indonesia

Pengaruh Menulis Karya Sastra Terhadap Perkembangan Anak-Anak Muda Di Indonesia

Karya sastra merupakan produk kreatif manusia. Karya sastra, sebagaimana karya kreatif lain, menuntut kemampuan penulis dalam menghasilkan komposisi atau gagasan yang pada dasarnya baru.

Karya kreatif berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang membentuk pola baru atau korelasi baru. Karya kreatif memiliki maksud dan tujuan, dan diciptakan dengan struktur yang relatif rumit (Hurlock, 1997).

Menurut John 4 Dewey (1994), anak belajar melalui pengalaman langsung. Apa yang dialami anak adalah sesuatu yang dipelajari.

Sementara itu, Vygotsky (Bodrova & Leong, 1996) percaya bahwa manipulasi fisik dan interaksi sosial adalah dua hal yang sama-sama penting dalam proses perkembangan.

Melalui interaksi sosial, anak-anak belajar karakter mana yang paling penting dan yang perlu diperhatikan. Guru berpengaruh langsung pada pembelajaran anak melalui aktivitas bersama (shared cognivity).

Untuk membuat suatu model pembinaan menulis karya sastra, perlu diketahui perkembangan anak dan remaja, setidak-tidaknya, perkembangan kognitif, moral, dan kreativitas mereka.

Anak usia 10 tahun merupakan, menurut Piaget, berada pada masa operasional konkrit dan sebagian lagi sudah berada pada masa operasional formal.

Anak telah mampu melakukan aktivitas logis tertentu. anak usia 10 tahun baru bisa melakukan operasi itu dalam situasi yang konkrit. Mereka terikat pada masa kini dan belum mampu memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa ada (Haditono, dkk.,1998).

Anak usia 10-11 tahun ini cenderung menyelesaikan masalah secara langsung (langsung memasuki masalahnya). Mereka cenderung menyelesaikan masalah hanya dengan melihat akibat langsung usaha-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu.

Perkembangan kognitif anak membawa konsekuensi logis pada karya sastra yang dilahirkannya. Ketidakmampuan anak berpikir sistematis cenderung melahirkan karya sastra yang linier.

Anak usia 12 tahun telah memasuki stadium operasional formal. Umumnya, anak memulai masa ini pada usia 11 tahun.

Pada masa ini, pemikiran anak telah memiliki dua sifat penting. Pertama, sifat deduktif-hipotetis; Anak yang berpikir operasional formal bekerja dengan cara memikirkan dulu secara teoretis.

Ia menganalisis masalahnya dengan berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisis ini, anak membuat suatu strategi penyelesaian.

Kedua, sifat berpikir kombinatoris. Anak mempergunakan teori dan membuat matriks mengenai berbagai hal untuk menemukan kombinasi yang tepat.

Anak menemukan penyelesaian secara sistematik dengan cara mencoba setiap kolom matriks secara empiris. Oleh karena itu, anak mampu menemukan dengan cepat kombinasi yang pernah ditemukannya. Ini berarti, anak mampu melakukan “problem-solving” secara ilmiah.

Anak akan memiliki perkembangan kreativitas yang baik apabila terbebas dari ejekan dan tekanan, memiliki sarana untuk mengeksplorasi dan bereksperimen, pembinaan dan penghargaan sosial, dan selalu memiliki pengalaman yang menyenangkan saat berkreasi (tidak dicela dan dimarahi).

Anak kreatif umumnya berasal dari keluarga yang tidak posesif dan cenderung percaya-mandiri, mendidik anak secara demokratis, dan memberi akses pengetahuan yang besar pada anak.

Penelitian Dellas dan Gaier (1970) tentang anak kreatif menunjukkan, antara lain, bahwa ciri kreatif adalah memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan penggunaannya secara efektif, kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang luar biasa dan tepat, banyak pengalaman hidup, kemampuan mensintesiskan gagasan yang baru dan berbeda. Anak yang kreatif mampu berpikir positif dan konstruktif dalam menanggapi masalah, memiliki intuisi kuat, kemandirian dalam sikap dan perilaku sosial.

Karya sastra, menurut Aristoteles (via Rahmanto,1986) ada, yakni jenis puitik dan naratif. Kini masyarakat membaginya menjadi tiga, yakni puisi, drama, dan naratif (yang meliputi novel atau roman dan cerita pendek, serta novelet).

Bakdi Soemanto (2005) menggugat pembagian yang tanpa menyertakan esai ini, karena menurutnya keduanya mengandung unsur fakta dan imajinasi Menurutnya, tidak ada karya sastra yang 100% hasil imajinasi, dan begitu pula dengan esai yang 100% fakta

Ada berbagai model pembelajaran sastra, antara lain model integratif yang menyatukan komponen berbicara, membaca, menulis, dan menyimak.

Model ini menekankan segi apresiasi dan rekreasi. Bacaan diperhatikan, dan pemilihan buku atau bacaan disesuaikan dengan pengalaman membaca siswa, minat baca siswa, dan peninjauan terlebih dahulu terhadap buku atau bacaan (Tomkins & Hoskisson, 1995).

Menurut Penelitian dari Suminto A, dkk (2007) bahwa karakteristik-karakteristik naskah cerpen dan novel itu berupa ide ceritanya sebagian besar berasal dari pengalaman pribadi/teman.

Ide cerita tentang cinta makin besar jumlahnya sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sebaliknya, dunia anak-anak banyak digambarkan oleh para penulis SD dalam karyanya, jumlah itu kian berkurang pada tingkat SMP lalu pada tingkat SMA.

Ada sejumlah hambatan penulisan yang dihadapi oleh para siswa SD, SMP, dan SMA dalam menulis karya fiksi. Hambatan-hambatan penulisan karya fiksi itu pada ide (tema), fakta cerita, dan sarana cerita. Secara keseluruhan hambatan-hambatan itu berupa hambatan dalam hal:

  1. menggali sumber ide dan mengembangkannya secara optimal;
  2. menyusun struktur alur secara proporsional;
  3. membuat awal yang menarik;
  4. menentukan ending;
  5. menggarap konflik dan klimaks cerita;
  6. membangun suspen;
  7. menciptakan karakter tokoh yang kuat;
  8. menggambarkan tokoh secara tepat dan variatif;
  9. memanfaatkan latar yang detail untuk menghidupkan cerita;
  10. membuat dialog yang hidup;
  11. membuat dialog dan narasi secara proporsional;
  12. penulisan dialog yang tepat;
  13. memilih diksi yang hidup dan variatif;
  14. memilih diksi yang mampu membangun emosi dan karakter tokoh;
  15. pemisahan dialog dan narasi dalam paragraf;
  16. penulisan dengan memperhatikan EYD;
  17. memilih judul yang menarik. Berdasarkan angket yang mereka isi, wawasan kepenulisan, kepekaan ide, dan kendala kepenulisan ternyata menduduki peringkat sedang.

Ada beberapa alternatif jalan keluar dalam menghadapi pembinaan menulis karya sastra bagi anak-remaja, antara lain:

  1. kesadaran dan ketelatenan guru dalam melakukan pembinaan menulis karya sastra di sekolah,
  2. perlu adanya forum-forum diskusi dan lomba-lomba bagi guru,
  3. perlu penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan untuk para guru,
  4. dukungan dari pihak sekolah untuk media publikasi karya sastra seperti mading, majalah atau buletin sekolah.

Adapun kebutuhan materi pembinaan menulis karya sastra anak-remaja berupa:

  1. menumbuhkan motivasi,
  2. pengembangan ide,
  3. pengembangan alur,
  4. pengembangan tokoh,
  5. penggarapan latar,
  6. pengembangan narasi dan dialog,
  7. tata tulis,
  8. pengetahuan tentang media

Dengan demikian, anak muda di Indonesia merupakan penerus dalam mengembangkan karya tulis di Indonesia. Perlu pembinaan dalam pembuatan karya tulis bagi kalangan anak SD, SMP, SMA agar terciptanya generasi literasi yang baik yang dapat meningkatkan literasi masyarakat di Inonesia, menjadikan negara Indonesia tercinta lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *