Pendidikan Berbasis Rumah Sebagai Pembinaan Anak Jalanan Dalam Rangka Memberdayakan Anak Jalanan Menjadi Generasi Penerus Yang Positif Dan Produktif

Pendidikan Berbasis Rumah Sebagai Pembinaan Anak Jalanan Dalam Rangka Memberdayakan Anak Jalanan Menjadi Generasi Penerus Yang Positif Dan Produktif

Masa depan bangsa Indonesia ditentukan dari kualitas generasi penerusnya, dan kualitas tersebut dapat diukur oleh mutu pendidikan yang ada. Sedangkan untuk memperoleh pendidikan di Indonesia ditentukan oleh banyaknya faktor yang salah satunya biaya. Adapun subsidi yang diberikan oleh pemerintah saat ini masih banyak diberikan kepada keluarga yang masih dikategorikan golongan mampu, namun hal itu dirasa belum seluruh daerah sari Sabang hingga Merauke mendapatkan subsidi tersebut. Masih banyak di pelosok daerah yang hanya diberikan subsidi pendidikan untuk bagian tertentu saja. Terlebih lagi orang tua yang memiliki ekonomi lemah tidak peduli akan perkembangan anaknya, dan memilih untuk mementingkan kebutuhan pokoknya sehari-hari.

Padahal menurut gagasan yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara mengenai “Tri Pusat Pendidikan” bahwa kesempatan maupun perlindungan bagi anak paling utama berasal dari orang tua. Namun, terkadang masih banyak keterbatasan dari orang tua, baik dalam hal ekonomi, tingkat pendidikan rendah, serta kurangnya keterampilan dapat berpengaruh terhadap pekerjaan orang tua seperti halnya sebagai pengamen, ataupun peminta-minta yang semua itu kemungkinan besarnya dapat diikuti oleh anak-anak mereka.

Fenomena anak jalanan muncul sejak krisis ekonomi pada tahun 1997 dan sampai saat ini jumlahnya tidak berkurang bahkan signifikan peningkatannya. Apabila tidak mendapat perhatian dikhawatirkan kecemasan akan hilangnya generasi penerus (lost generation) bagi bangsa Indonesia akan menjadi kenyataan. Faktanya, menurut Kementerian Sosial (2017) yang dilansir dari nasional.kompas.com  bahwa sepanjang tahun 2017 silam tercatat 16.290 Anak Jalanan yang masih tersebar di 21 Provinsi di Indonesia.

Anak Jalanan yaitu anak yang memiliki usia sekitar di bawah 18 tahun dan bertempat tinggal di wilayah kosong yang tidak memadai serta kurang pengawasan di jalanan, sebagai salah satu fenomena kehidupan di kota-kota besar yang sering dipandang sebagai simbol kemiskinan atau masalah sosial yang mengancam ketenteraman maupun ketertiban masyarakat serta merusak pemandangan dan keindahan kota.

Pendidikan Berbasis Rumah yaitu Pendidikan yang diberikan melalui rumah singgah kepada anak yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan formal agar tetap semangat belajar dan memiliki struktur bernalar yang hebat. Pendidikan Berbasis Rumah ini dikemukakan oleh pakar Home Education  yaitu Bapak Harry Santosa (Founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (Founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996)

Dengan adanya Pendidikan Berbasis Rumah diharapkan mampu mengadakan perubahan pola pikir, sikap mental dan menggunakan cara pendekatan-pendekatan intensif dan pada akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah yang positif. Oleh karenanya, pendekatan pendidikan diperlukan di dalam membina dan mengatasi masalah anak jalanan, Tujuan dari pendidikan melalui Pendidikan Berbasis Rumah adalah pembudayaan manusia (anak jalanan) secara bertahap agar dapat meningkatkan kesadaran mental maupun moral anak.

Secara konseptual pola pendidikan ini menitikberatkan pendekatan yang mendidik serta mengelompokkan anak-anak jalanan sesuai dengan teman seusianya, menggunakan metode Pendidikan  berdasarkan Komunitas yang dapat dikelola oleh lembaga-lembaga yang dapat disediakan serta disubsidi sepenuhnya oleh pemerintah, dengan kriteria pengelompokan berikut:

Anak kelompok usia Balita

  • Pada anak yang berusia 5 tahun atau kurang yang biasanya diajak atau digendong oleh sang ibu untuk melakukan pekerjaan mengamen atau meminta-minta di jalan, apabila hal itu tidak diantisipasi maka kebiasaan tersebut kemungkinan besar akan ditiru ketika anak-anak tersebut sudah memasuki usia 6 tahun ke atas. Pola pembinaan untuk anak usia ini sebaiknya dilakukan pemberdayaan melalui sang ibu atau keluarganya terlebih dahulu. Inti dari pola pembinaan ini agar ibu atau orang tua anak meninggalkan kebiasaan yang tidak baik tersebut dan beralih kepada kegiatan ekonomi produktif.
  • Idealnya anak yang berusia 5 tahun diikutkan belajar pada Taman Bermain (PlayGroup) atau sekolah TK. Namun apabila hal itu tidak memungkinkan, dapat menggunakan cara memberdayakan orang tua dengan memberikan fasilitas untuk mengembangkan kemampuan orang tua dalam bentuk karya seni yang melibatkan anak untuk berkecimpung mengolah pola pikir dan kreatifitas anak dalam mengikuti pembuatan karya seni orang tua melalui pengelolaan lembaga yang dapat menyalurkan hasilnya untuk diperdagangkan dan menjadi nilai ekonomis bagi orang tua tersebut, sehingga diharapkan dapat menjadi mata pencaharian sang ibu untuk seterusnya dalam membiayai anaknya.

Anak kelompok Usia SD

  • Pada anak yang berusia antara 6 sampai dengan 12 tahun sudah mulai dapat meniru dan bahkan dapat mengembangkan dengan menambah atau mengurangi segala sesuatu yang dilihatnya. Anak pada usia tersebut lebih di gali mengenai potensi ide/kreatifitas yang dimiliki untuk disalurkan dan dikembangkan dalam bentuk karya bersama dengan teman/kelompok sebayanya yang kemudian dapat menjadi prestasi sebuah daerah di mana dia tinggal maupun bangsa Indonesia secara umumnya.

Anak Kelompok Usia SMP

  • Setelah berusia 13 tahun atau lebih anak mulai dapat mengembangkan pemikiran dari hal-hal yang kongkret ke hal-hal yang abstrak. Maka pada anak usia tersebut lebih diberikan fasilitas untuk mengembangkan hobi dan dikelompokkan ke dalam teman sebayanya yang memiliki hobi yang sama untuk lebih dipotensialkan serta diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan positif misalnya perlombaan dan acara lainnya yang menunjang hobi anak tersebut.

Anak Kelompok Usia SMA

  • Pada kelompok ini anak mudah dikategorikan dewasa, sudah memiliki pendirian dan pemikiran yang kuat. Pembinaan untuk anak usia tersebut lebih cenderung diarahkan ke keahlian/keterampilan yang dimiliki melalui penawaran program diklat dengan berbagai jurusan keahlian yang bekerjasama dengan berbagai Instansi untuk dapat merekrut anak-anak tersebut yang memiliki keahlian dalam bidangnya masing-masing. Dan dapat pula diberikan modal awal untuk berwirausaha bagi yang tidak bekerja di Instansi setelah mengikuti program diklat dengan tetap diberikan bimbingan, pendampingan terutama terhadap masalah pemasaran produk, serta dilakukan evaluasi efektivitas program tersebut.

Semua pengelompokan dalam Pendidikan Berbasis Rumah tersebut akan berjalan dengan koordinasi dan kerjasama antara pemerintah daerah setempat dengan berbagai pihak. Pembinaan yang perlu dilakukan pada prinsipnya menciptakan suasana baik fisik maupun sosial yang membuat mereka dapat mengubah pola pikir serta sikap yang tidak betah turun ke jalan untuk melakukan pekerjaan mengamen atau meninta-minta dan mempunyai keinginan mengikuti dengan sepenuhnya terhadap program-program tersebut. Dari hal itulah selanjutnya akan terbentuk budaya yang positif yang ditandai oleh optimistis, kreatif, inovatif, uler, bekerja keras dan produktif. Dengan demikian, diharapkan program pembinaan yang dimaksud akan lebih sistematis, komprehensif dan berkesinambungan.

Anak jalanan bagaimanapun juga adalah generasi penerus yang dimili oleh bangsa Indonesia, akan berakibat fatal apabila anak jalanan itu dibiarkan terus-menerus akibat krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Kerjasama pemerintah dan berbagai pihak sangat diperlukan untuk memberdayakan anak jalanan menjadi generasi penerus yang positif serta produktif. Dan tak kalah pentingnya, jika semua pihak dapat berkonstribusi dalam hal ini seperti contoh pemberian uang di jalan dapat dialihkan menjadi pemberian dana kepada Dinas Sosial atau lembaga terkait yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola dan mengembangkan potensial anak-anak jalanan maka diyakini program tersebut akan berjalan dengan baik dan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *