Pembelajaran Interaktif Dengan Model Discovery Learning Berbasis Informasi Teknologi Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Proses Belajar Mengajar

Pembelajaran Interaktif Dengan Model Discovery Learning Berbasis Informasi Teknologi Untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Proses Belajar Mengajar

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang meningkatkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal[1].

Model pembelajaran yang paling sering dilakukan oleh guru-guru di sekolah yaitu konvensional. Model pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat speradis[2]. Seiring berjalannya waktu, pembelajaran konvensional ini tidak lagi efektif dilakukan karena adanya perubahan zaman sehingga mendorong untuk segera mengganti model pembelajaran tersebut. Ditambah lagi dengan pesatnya kemajuan teknologi-teknologi dan globalisasi saat ini seperti adanya smartphone, internet, dan lain sebagainya membuat siswa dengan sangat mudahnya mendapat informasi dan pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan yang ada di sekolah.

Model pembelajaran konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu: (1) siswa menjadi pasif, (2) guru sukar untuk menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik ceramahnya, (3) membosankan bila digunakan terlalu lama[3]. Hal tersebut sangat tidak sesuai dengan kepribadian para siswa milenials yang sekarang ini. Siswa milenials yang sekarang ini, lebih aktif dan selalu menunjukkan eksistensinya di dunia maya yaitu media sosial (medsos). Ditambah lagi dengan banyaknya informasi pengetahuan di internet sehingga tidak perlu lagi memberikan kata-kata yang panjang kepada siswa, hanya saja penerapan dari ilmu pengetahuan itu yang lebih penting.

2. Permasalahan

Permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah ketidaksesuaian model pembelajaran konvensional kepada para siswa milenials di zaman sekarang ini. Pembelajaran konvensional membuat para siswa menjadi pasif, maka perlunya perubahan model pembelajaran di sekolah. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kepribadian siswa yang sekarang ini yaitu dengan model interaktif Discovery Learning yang membuat para siswa semakin aktif dalam proses pembelajaran.

2.1 Model Pembelajaran Interaktif Discovery Learning

Model pembelajaran interaktif (Interactive Learning) adalah model pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered), dimana siswa dilibatkan langsung dalam berbagai jenis kegiatan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran Interaktif membuat siswa saling berinteraksi dalam berbuat dan berpikir (hands on and minds on) yang menghasilkan umpan balik secara langsung terhadap materi pelajaran yang diberikan[4].

Salah satu jenis pembelajaran interaktif yaitu model Discovery Learning. Model Discovery Learning merupakan terobosan yang tepat dalam perubahan metode pembelajaran para siswa. Model Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner yang dikutip dari dokumen Emetembun mengenai pembelajaran Discovery Learning sebagai berikut:

Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self[5].

Ide dasar Bruner ini menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas. Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan.

2.2 Perkembangan Informasi Teknologi

Perkembangan  Teknologi Informasi dan Komunikasi telah menunjukkan dampak yang cukup besar dalam dunia pendidikan. Sekarang dalam kurikulum 2013 sistem pembelajaran sudah berbasis Informasi dan Teknologi (IT)[6]. Pada  saat  ini  pengguna  teknologi  informasi  dan  komunikasi  tidak  hanya  terbatas  pada  orang dewasa  saja, tetapi  sudah  menembus pada  anak-anak  terutama  siswa.  Hal  ini  dapat  terlihat  dari beralihnya  ketertarikan  siswa  pada  media  informasi  serta    permainan-permainan yang berbasis multimedia. Dengan adanya teknologi yang super canggih di zaman sekarang ini contohnya yaitu smartphone yang bisa mengakses internet di mana pun dan kapan pun, maka sekolah dihadapkan dengan inovasi pembelajaran berbasis IT. Pada pembelajaran konvensional, para siswa diberikan buku untuk sumber referensi, maka di zaman sekarang ini inovasi pembelajaran terus berkembang. Para siswa diberikan tablet smartphone oleh sekolah saat proses belajar mengajar sebagai sumber referensi untuk menunjang keberhasilan pembelajaran interaktif Discovery Learning.

2.3 Langkah-langkah Implementasi Model Pembelajaran Interaktif Discovery Learning

Pertama, para siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar) dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah[7].

Kedua, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Pada kesempatan ini para siswa diberi smartphone oleh sekolah sebagai sumber referensi dan mencari jawaban dari soal yang diberikan guru.

Ketiga, ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya yang bersumber dari smartphone yang diberikan sekolah. Pada tahap ini siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

            Keempat, ada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan hasil temuan yang berasal dari internet smartphone yang diberikan. Para guru juga mengevaluasi tindakan para siswanya dalam menemukan hipotesis tersebut. Guru tetap menjadi control terhadap siswa-siswanya.

Kelima, menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil temuan. Dengan adanya teknologi internet dari smartphone membantu para siswa menemukan hipotesis yang tepat dari agenda masalah yang diberikan guru. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu

3. PENUTUP

            Pembelajaran interaktif dengan model Discovery Learning mampu meningkatkan keaktifan para siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Didukung dengan perkembangan Informasi Teknologi yang sekarang ini, maka pembelajaran model Discovery Learning sesuai diterapkan kepada para siswa milenials sekarang ini sehingga mampu mewujudkan Indonesia Emas 2045.

 

DAFTAR PUSTAKA

[1]Dr. Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm 140.

[2]Brooks, J.G & Martin G. Brooks, In Search of Understanding: The Case for Construvtivist Classrooms, (Virginia: Association for Supervission and Curriculum Development, 1993).

[3]Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010).

[4]Hake, R.R, Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Six-Thousand-Student Survey Of Mechanics Test Data For Introductory Physics Courses, (Bloomington: American Association of Physics Teachers ,1997), hlm. 64-74.

[5]Lefancois dalam Emetembun, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986).

[6]Hermawan, Agus, Eko Retna & Wahyudin, Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Teknologi Informasi Dan Komunikasi Berbasis Multimedia Di Madarasah Tsanawiyah Darul Mutaalimin, (Garut: Jurnal Algoritma Sekolah tinggi Teknologi Garut, 2014), hlm. 1-11.

[7]Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja, 2004)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *