METODE KELAHIRAN GANDA PADA TERNAK

METODE KELAHIRAN GANDA PADA TERNAK

 A. Faktor Berpengaruh Pada Kelahiran Kembar

  1. Faktor Genetik

Kejadian kelahiran kembar dari berbagai rumpun sapi dilaporkan antara 0,3-8,5% (Kirkpatrick and Morris, 2015), dimana ada perbedaan tingkat kelahiran kembar antara rumpun. Garrick and Ruvinsky (2015) menyebutkan kelahiran kembar sapi Bos taurus lebih tinggi (1-5%) dibandingkan dengan Bos indicus (< 1%). Perbedaan tingkat kelahiran kembar antara tipe perah dan tipe potong, dimana sapi potong lebih rendah yaitu <2% dibandingkan sapi perah yaitu 4-8 % (Sadanand 2014). Sapi Friesian Holstein memiliki tingkat kelahiran kembar mencapai 10% disebabkan oleh tingginya kejadian ovulasi ganda (Sawa et al. 2015).

  1. Faktor Non Genetik

a. Pakan

Asupan energi pakan dapat mempengaruhi ovulasi ganda melalui peningkatan konsentrasi IGF-1. Fitzgerald et al. (2014) menjelaskan bahwa level IGF-1 mempengaruhi perubahan konsentrasi Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang berfungsi dalam perkembangan dan pembentukan follikel (folliculogenesis) yang menyebabkan perkembangan folikel dominan lebih dari satu (ganda

b. Paritas dan umur ternak

Pengaruh paritas dan umur induk terhadap kelahiran kembar berkaitan dengan kemampuan dan kapasitas induk memelihara kebuntingan kembar. Induk yang lebih tua dengan paritas>1 lebih memungkinkan untuk mengalami kebuntingan kembar (Sawa et al. 2015).

c. Tahun dan musim kawin

Fluktuasi kelahiran kembar antar tahun menggambarkan perbedaan lingkungan suhu udara (temperatur), kelembaban yang mempengaruhi baik kuantitas dan kualitas pakan, konsumsi pakan serta reproduksi (Goli 2017). Adanya tren peningkatan kelahiran kembar pada sapi terjadi seperti yang ditunjukkan oleh beberapa laporan dengan peningkatan 0,7-5% (Sawa et al. 2015; Fricke 2015; Moioli et al. 2017).

B. Teknologi Meningkatkan Kelahiran Kembar

1. Induksi hormonal

Kebuntingan kembar dapat diupayakan melalui manipulasi ovulasi secara hormonal yang bertujuan menstimulasi peningkatan jumlah sel telur yang berasal dari beberapa folikel (>1) pada saat ovulasi atau terjadinya ovulasi ganda yang dikenal dengan teknologi superovulasi

2. Transfer Embryo (TE)

Teknologi TE telah banyak diterapkan secara praktis di lapangan lebih dari 40 tahun karena relatif tidak terlalu sulit (Kaniyamattam et al. 2018).

3. Kombinasi IB-TE

Teknik kombinasi Inseminasi Buatan (IB) yang kemudian diikuti TE berselang 7 hari telah banyak diterapkan secara transcervical (tanpa operasi) dan merupakan metode efektif mendapatkan kelahiran kembar (Dochi et al. 2008).

4. Aplikasi IB-TE mixed-breed

Aplikasi teknologi IB-TE mixed-breed menggunakan rumpun berbeda, sehingga dihasilkan 2 anak yang berasal dari rumpun berbeda (mixed-breed) dimana IB menggunakan semen beku rumpun yang sama dengan betina resipien dan TE menggunakan embrio yang berbeda rumpun

C. Manajemen

1. Deteksi kebuntingan dini

Kebuntingan kembar pada ternak sapi seperti sering menimbulkan kematian anak dan induknya. Resiko kematian pada kebuntingan kembar dapat dikurangi melalui tatalaksana pemeliharaan induk bunting sejak dini dengan perhatian dan persiapan khusus. Tatalaksana pemeliharaan induk bunting kembar diawali dengan melakukan deteksi kebuntingan dini.

2. Perlakuan extrogenous hormon

Pada sapi bunting kembar, jumlah CL diharapkan lebih dari satu yang berperan menghasilkan hormon progesteron untuk menjaga kebuntingan. Bo and Baruselli (2014) melakukan induksi hormonal dengan FSH, eCG atau hCG untuk menstimulasi peningkatan CL berkualitas bertujuan menyediakan progesteron yang cukup bagi embryo > 1 agar terjadi kebuntingan kembar

3. Suplementasi mineral dan vitamin

Kelahiran kembar pada ternak sapi dapat menyebabkan panjangnya lama kosong akibat tingginya tingkat kejadian retained placenta dan distochia. Selenium telah ditetapkan sebagai mineral oksidatif berperan dalam pertahanan tubuh (Jovanovic et al. 2013), sedangkan Vitamin E merupakan antioksidan pematah rantai residu dalam membran sel. Selenium dan vitamin E bekerja secara interdependen mengatasi retained plasenta (Hossain et al. 2015).

4. Nutrisi

Pakan perlu mendapat perhatian khusus selama kebuntingan kembar dan masa laktasi untuk menjaga produksi susu agar tidak menurun dan mengurangi dampak negatif seperti retained plasenta, distochia, keguguran, endometritis, gangguan metabolisme dan kesehatan (Hossein-Zadeh et al. 2015; Saini et al. 2015).

Kejadian kelahiran kembar pada ternak sapi sangat rendah yang dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi, paritas/umur induk, dan musim perkawinan. Kelahiran kembar dapat ditingkatkan melalui teknologi seleksi, induksi hormonal, TE, dan kombinasi IB-TE (mixed-breed). Upaya meningkatkan kelahiran kembar harus disertai dengan manajemen pemeliharaan yang tepat dan efektif untuk mengurangi dampak negatif kelahiran kembar seperti kematian embryo/anak, distochia, retensi plasenta dan jarak beranak yang panjang. Manajemen untuk kelahiran kembar meliputi deteksi kebuntingan dini, pemberian suplemen dan mineral.

Kelahiran kembar memberikan keuntungan bagi usahaternak sapi potong melalui pertambahan total berat sapih per-induk. Pro dan kontra terhadap kelahiran kembar terjadi pada usahaternak sapi perah, terutama terhadap produksi susu. Kelahiran kembar disukai oleh peternak Indonesia disebabkan oleh pengaruh kultur yang berdampak pada peningkatan nilai jual sapi kembar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *