Home / Peternakan / Mengenal Permasalahan Dalam Mengembangkan Budidaya Dari Sektor Peternakan Di Indonesia
Mengenal Permasalahan Dalam Mengembangkan Budidaya Dari Sektor Peternakan Di Indonesia

Mengenal Permasalahan Dalam Mengembangkan Budidaya Dari Sektor Peternakan Di Indonesia

Peternakan adalah suatu usaha mengembangbiakkan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari usaha tersebut. Hewan ternak yang dimaksud berupa sapi, kambing, domba dan lainnya. Sektor peternakan di Indonesia selalu mengalami peningkatan dan perkembangan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Hal ini dikarenakankan dari peningkatan kebutuhan masyarakat Indonesia akan konsumsi daging. Maka, pangan asal ternal sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan, kesehatan dan kecerdasan masyarakat Indonesia. Daging merupakan salah satu pangan yang sangat penting dalam  mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta komoditas ekonomi yang mempuyai nilai strategis.

Pembangunan pertanian jangka pendek tahun 2005-2009 mempunyai tiga saran, yakni meningkatkan ketahanan pangan, kesejahteraan petani dan pengembangan agribisnis (Anonym, 2005). Ketiga saran ini sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di dalam negeri, seperti rawan pangan yang semakin meluas, sebanyak 40 juta masyarakat hidup dalam kemiskinan dan perkembangan agribisnis yang belum mencapai daya saing yang tinggi dan juga gagal dalam memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimiliki. Ketahanan pangan akan terwujud apabila Indonesia mampu memproduksi pangan untuk keperluan domestik (substitusi impor) dengan memperhatikan daya saing dan pemberdayaan petani, melalui pemanfaatan sumberdaya lokal yang didukung oleh inovasi teknologi serta pemasaran yang tepat.

Terkhusus untuk subsektor peternakan yang selama ini kurang mendapat perhatian karena pemerintah lebih fokus pada usaha peningkatan beras, mulai menggigit perekonomian nasional. Populasi ternak utama seperti sapi, kerbau dan kambing mengalami pengurasan yang terus meningkat setiap tahun. Secara nasional populasi sapi potong selama 1994 – 2002 mengalami penurunan sebesar 3,1 persen per tahun (HADI et al., 2002). Penurunan populasi ini ini lebih mengkhawatirkan karena terjadi di wilayah sentra produksi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggra Timur, Sulawesi, Lampung dan Bali. Pengurasan berkelanjutan ini mulai mengancam keberlanjutan produksi hasil ternak dalam negeri, sehingga jumlah impor terus meningkat. Statistik Peternakan pada BPS (2006) memperlihatkan bahwa 65 persen produksi daging dalam negeri berasal dari impor. Kecenderungan peningkatan impor daging (termasuk offal) dan sapi bakalan maupun sapi potong bukan semata-mata permintaan dan penawaran, tetapi juga disebabkan karena adanya kemudahan dalam pengadaan produk impor (volume, kredit dan tranportasi) serta harga produk yang relatif murah. Dengan kondisi ini mengakibatkan peternak lokal tidak mampu bersaing dan kurang bergairah dalam mengelolah usaha ternaknya, karena harga daging (sapi potong) di pasar domestik menjadi tertekan (relatif murah).

Secara garis besarnya bahwa pembangunan peternakan di Indonesia dititikberatkan kepada pembangunan peternakan rakyat/peternak lokal. Ternak merupakan komoditi yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan petani. Beberapa tahun terakhir ini, kondisi pasar domestik semakin diperkeruh oleh masuknya daging impor illegal, yang sebagian besar adalah “jerohan” (offal) seperi jantung, ginjal, hati, paru, kikil dan lainnya, serta kurang terjamin dalam hal aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) (Tawaf, 2004). Namun keberhasilan dalam penanggulangan daging illegal, yang dibarengi dengan naiknya harga sapi impor akhir-akhir ini, telah merubah pola perdagangan sapi dan daging di Indonesia. Para pengusaha ternak penggemukan saat ini mulai bergairah kembali menjaring sapi lokal dan kerbau untuk digemukkan. Bahkan sebuah usaha feedlotter di Jawa Barat memanfaatkan kerbau lokal sebagai bakalan untuk memasok kebutuhan daging di pasar tradisional. Akibatnya harga sapi di tingkat peternak meningkat cukup signifikan.

Indonesai memiliki peluang besar sekaligus tantangan besar dalam APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) pada tahun 2020 dan juga bentuk kerjasama lainnya seperti AFTA, NAFTA (North American Free Trade Area) dan Urugay Round. Peluang yang dimaksud adalah dalam mencapai efisiensi dan kesejahteraan penduduk Indonesia. Sedangkan tantangan besar yang dimaksud adalah dikarenakan perekonomian Indonesia saat ini, walaupun telah menunjukkan kemajuan tetapi belum tentu cukup kuat untuk menghadapi berbagai kemajuan dan ketergantungan Internasional. Berbagai indikator sosial ekonomi menunjukkan kelemahan perekonomian dimaksud antara lain: Pertama, sumber daya manusia Indonesia yang relatif rendah. Kedua, masih banyaknya produk yang berdaya saing rendah dan diproduksi dengan tidak efisien. Ketiga, tingkat penguasaan teknologi yang rendah. Keempat, keterbatasan infrastruktur dan birokrasi. Kelima, masih kuatnya hasrat masyarakat Indonesia mengkonsumsi barang impor.

Subsektor peternakan sudah dapat dipastikan akan juga menerima perdagangan bebas tersebut, sehingga perlu dilakukan upaya terobosan agar tercapai sasaran dan target dari pembangunan di bidang peternakan. Pengembangan peternakan sangat penting karena dikaitkan dengan komoditi peternakan yang merupakan salah satu komoditi yang sangat strategis. Disamping itu pengusahaan peternakan umumnya dilakukan oleh petani yang tinggal di pedesaan dan memiliki daya saing yang rendah. Pada kurun waktu belakangan ini komoditi peternakan mengalami suatu dilema yang perlu untuk ditanggulangi, yakni semakin meningkatnya impor tertama daging sapi dan sapi bakalan serta produk peternakan lainnya seperti susu, telur, wol dan sebagainya. Peningkatan perkembangan peternakan tidak sebanding dengan laju peningkatan permintaan masyarakat. Upaya terobosan tersebut adalah dengan membangun sentra produksi secara terkosentrasi dengan disertai upaya penerapan teknologi yang disebut Gerakan Pengembangan Sentra Bibit Baru di Pedesaan serta Pendekatan Inseminasi Buatan

Indonesai mempunyai lahan persawahan dan perkebunan yang luas, dimana limbah pertanian maupun bio-masa yang dihasilkan dalam agroindustri belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk pengembangan sapi. Saat ini masih tersedia perkebunan yang relatif kosong ternak seluas lebih dari 15 juta ha, lahan sawah dan tegalan yang belum optimal dimanfaatkan untuk pengembangan ternak lebih dari 10 juta ha, serta lahan lain yang belum dimanfaatkan secara optimal lebih dari 5 juta ha di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, setiap ha kawasan perkebunan atau pertanian sedikitpun mampu menyediakan bahan pakan untuk 1-2 ekor sapi sepanjang tahun (Haryanto et al.,2002). Dengan ini, maka potensi yang dapat dipergunakan dalam pengembangan usaha peternakan cukup besar dalam penyediaan lahan atau dalam penyediaan pakan ternak yang cukup besar.

Maka dapat disimpulkan ada bebapa potensi yang dipergunakan dalam pengembangan usaha peternakan yaitu (1) adanya pasar domestik yang potensial, (2) daya dukung lahan/alam untuk menyediakan pakan ternak sangat besar dan relatif murah, (3) sumberdaya manusia dan kelembagaan relatif tersedia, (4) sumberdaya genetik ternak dan (5) tersedia teknologi tepat guna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *