Home / Cerpen / Masa Depan
Masa Depan

Masa Depan

Namaku Roni seorang anak pencari masa depan. Sejak diriku kelas 1 SD (Sekolah Dasar) aku memiliki cita-cita ingin menjadi Goku dalam serial tv kartun yaitu Dragon Ball. Menurutku dia sungguh hebat. Dia tidak pernah mengeluh dalam menyelamatkan bumi. Dia juga tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan kebenaran. Ditambah lagi dia mempunyai kekuatan yang hebat. Bukankah itu hebat? Ya, jelas sekali hebat menurutku. Di masa itu aku hanya melebihkan ekspentasiku di dalam angan-anganku di masa depan. Semua teman-temanku menyebutkan cita-citanya ingin menjadi dokter, tentara atau polisi. Bagi mereka itu hebat, tapi menurutku aneh. Kenapa? Karena dokter, tentara ataupun polisi tidak sehebat Goku. Tentu saja aku membandingkannya dengan cita-cita ekspentasiku itu. Ya jelas, perbandingan itu tidaklah relevan atau bernalar. Sebuah realita dibandingkan dengan hal-hal fantasi belaka. Kecuali hal-hal fantasi berubah menjadi realita yang banyak terjadi seperti sekarang ini.

Tetapi diwaktu ditanya oleh guru tentang cita-citaku tentu saja aku menjawab dokter, tentara atau polisi. Hah sungguh lucu bukan?. Aku menyepelakan cita-cita yang seperti itu, tetapi diriku mengakui cita-citaku seperti itu di depan guruku. Beranjak kelas 4 SD aku selalu dibully oleh teman-temanku. Karena apa? Tentu saja karena aku bodoh. Lebih tepatnya mereka menganggapku bodoh. Cita-cita seperti Goku terasa sirna di telan bumi ketika lontaran kata-kata bullyan mereka.

Di saat itu aku sadar aku tidak pernah bisa menjadi Goku. Seorang Goku tidak pernah menjadi bullyan teman-temannya. Dia penolong teman-temannya. Tapi begitulah realita, bukan?

Ketika aku tamat SD, aku berusaha untuk tidak menghindari melanjutkan ke sekolah yang sama dengan teman-teman yang membully aku. Dan itu sukses. Aku melanjutkan SMP (Sekolah Menengah Pertama) ke sekolah yang tidak ada satupun disitu teman-teman yang membully aku.

Aku SMP di salah satu sekolah terbaik di kotaku sendiri. Sekolah tersebut dikenal dengan kedisiplinannya yang sangat ketat. Harus ini, harus ini, harus ini dan harus ini. Tentu saja itu sebuah kewajibanku sebagai seorang pelajar untuk menurutinya. Selama aku bersekolah disitu, tentu saja banyak peraturan yang banyak kulanggar. Salah satunya sering terlambat ke sekolah. Aku pun sering dihukum oleh guru-guru yang disana. Tapi tetap saja mereka adalah guru-guru yang kucintai.

Sering terlambat di sekolah menjadi sebuah kebiasaan ku hingga sekarang. Aku saja selalu tidak disiplin waktu. Dimana terlambat, disini terlambat, disana terlambat. Itulah diriku. Bukan berarti aku tidak mau merubahnya. Aku berusaha merubah kebiasaan burukku itu.

Selama SMP aku menjadi seorang yang tidak bisa mengambil keputusan. Aku orangnya penakut, tetapi nekat. Ya aku penakut mungkin karena trauma dibully dan aku nekat karena rasa penasaran ku yang tinggi. Dikala SMP aku termasuk siswa yang cerdas. Mungkin karena faktor itulah, aku bisa mencegah penderitaanku dikala SD. Tapi diwaktu SMP aku termasuk orang yang tidak mempunyai cita-cita. Ketika ada seorang menanyakan cita-citaku. Aku selalu menjawab “tidak tahu”. Berbeda dikala waktu SD, bukan?

Berlanjut sekolah ke SMA. Rasa cemas dikala melanjutkan sekolah tidak ada. Aku melanjutkan ke SMA dengan lancar. Di SMA banyak sekali penwaran-penawaran oraganisasi yang harus diikuti. “Mungkin disini aku bisa memperbaiki cita-citaku” itulah pertama kali yang ada di benakku ketika pertama kali masuk SMA. Aku memasuki organisasi pramuka. Di sana aku ditempa dengan ala pramuka yaitu keras. Aku sering dikerjai oleh senior-seniorku. Tapi aku udah kebal dengan itu, karena penderitaan waktu SD yang kualami. Di waktu senior-senior itu mengerjaiku aku bisa mensiasatinya agar mereka tidak semena-mena denganku.

Di waktu SMA aku banyak pengalaman oraganisasi. Aku temasuk orang yang olahragawan di waktu itu. Aku adalah seorang atletik. Aku selalu memenang juara lomba lari dimana-mana. Di kala belajar di kelas, aku juga termasuk orang yang cerdas. Intinya aku bisa mengobati penderitaanku di waktu SD. Banyak pengalaman di SMA tapi aku tidak bisa menemukan cita-citaku disana. Aku bingung dengan cita-citaku ini. “Kalau aku menjadi Goku tentu saja aku tidak bisa, akukan tidak ada kekuatan Kamehameha” itulah yang kupikirkan jika aku mengingat pengalaman di waktu SD.

Di kala itu, sepulang sekolah aku melihat seorang ibu dengan anak-anaknya yang kira-kira berumur 2 tahun di pinggir jalam lampu merah. Baju mereka sobek koyak, keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Tentu saja aku kasihan dengan mereka itu, aku menghampiri mereka dan memberi uang sedekah kepada mereka. Mereka pun menunjukkan ekpresi luar biasa senang. “terimakasih bang, terimakasih banyak bang” kata-kata anak-anak berumur 2 tahun itu membuatku kagum dan segan melihat mereka. Dengan keadaan mereka yang sangat memprihatinkan, tapi mereka masih bisa tersenyum. Distulah tiba-tiba aku menemukan suatu impianku di masa depan. Aku menemukan cita-cita ku. Kalau aku tidak bisa menjadi Goku, tetapi aku bisa menjadi seperti Goku, bukan? Goku adalah seorang yang penolong dan seorang yang tidak mengeluh dan tidak menyerah. Dia tidak menyerah dalam menyelamatkan teman-teman mereka. Aku juga bisa. Aku ingin membuat sebuah gedung atau sebuah usaha untuk menyelamatkan para pegemis, gelandang ataupun disabilitas yang ada didunia ini.

Akun ingin membuat usaha yang bertujuan untuk membantu mereka dan menjadi seorang pribadi yang hebat dalam membantu orang. Aku ingin membuat sebuah tempat tinggal yang layak bagi mereka. Aku ingin membangun gedung atau apartemen untuk mereka yang membutuhkan. Itulah Masa Depanku….

END..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *