Home / Opini / MANAJEMEN PAKAN RUSA
MANAJEMEN PAKAN RUSA

MANAJEMEN PAKAN RUSA

Status rusa di Indonesia hingga saat ini masih merupakan satwaliar yang dilindungi oleh Undang-undang sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 1999 tanggal 27 Januari 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.  International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) pada tahun 2007 mengelompokkan rusa timor sebagai jenis dengan kategori kurang beresiko dan sedikit perhatian (low risk/low concern), kemudian pada tahun 2008 meningkat menjadi rentan (vulnerable) (Hedges et al., 2008).

Saat ini keberadaan rusa semakin terancam. Hal tersebut dikarenakan semakin luasnya pembukaan kawasan hutan menjadi non-hutan yang menyebabkan habitat rusa sambar semakin terdesak, selain itu perburuan liar yang terus berlangsung semakin mempercepat penurunan populasi rusa di habitat alaminya.

Dalam upaya untuk mengurangi tekanan-tekanan terhadap kehidupan rusa di alam, terutama akibat perburuan liar maka perlu ditingkatkan kegiatan-kegiatan konservasi ex-situ yang salah satu diantaranya melalui kegiatan penangkaran rusa.

Upaya-upaya konservasi ex-situ merupakan bagian terpenting bagi strategi konservasi terpadu untuk melindungi satwa terancam punah. Upaya konservasi ex-situ meliputi dua hal penting yang harus mendapat perhatian, yaitu memanfaatkan dengan hati-hati dan memanfaatkan yang harmonis. Pemanfaatan yang hati-hati berarti menghindari sama sekali terjadinya kepunahan spesies.

Sedang pemanfaatan yang harmonis, berarti mempertimbangkan dan memperhitungkan kepentingan-kepentingan pihak lain, sehingga lokal, regional maupaun nasional bahkan dalam kaitannya dengan kepentingan konservasi satwa liar secara internasional (Alikodra,1990).

Salah satu komponen penting dalam pengelolaan satwa liar di penangkaran adalah ketersediaan tumbuhan pakan di dalam atau di luar areal penangkaran, yang selanjutnya menentukan daya dukung habitat. Pentingnya kualitas dan kuantitas pakan pada satwa ruminansia kecil, termasuk rusa yang dipelihara dalam penangkaran dengan sistem tanpa dikandangkan (ekstensif) adalah karena pakan merupakan faktor pembatas, dimana rendahnya kualitas dan kuantitas pakan seringkali menjadi faktor kendala utama dalam penangkaran untuk tujuan produksi.

Pada ruminansia, bahan makanan tersebut tidak saja berkaitan dengan nilai gizi tapi juga ketersediaan biomassa sumber hijauan pakan (Ramirez, 1999). Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui tingkat produktivitas tumbuhan pakan yang tumbuh di dalam dan sekitar lokasi penangkaran, sehingga dapat diperkirakan ketersediaan pakan untuk memenuhi kebutuhan pakan rusa yang ditangkarkan.

1. Asal Usul Ternak Rusa

Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya, dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam.

Rusa jantan mempunyai ranggah (tanduk) yang pendek, tidak melebihi setengah dari panjang kepala dan bercabang dua serta gigi taring yang keluar. Kijang atau menjangan (Muntiacus muntjak) merupakan binatang soliter.

Kijang jantan menandai wilayahnya dengan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang terdapat di kepala mereka di tanah dan pepohonan. Selain itu kijang jantan juga menggoreskan kuku ke tanah atau menggores kulit pohon dengan gigi sebagai penanda kawasan.

Jenis rusa asli Indonesia ini biasanya aktif di malam hari meskipun sering kali tetap melakukan aktifitas di siang hari. Makanan utamanya adalah daun-daun muda, rumput, buah, dan akar tanaman.

Kijang merupakan binatang poligami. Jenis rusa ini tidak memiliki musim kawin tertentu sehingga perkawinan terjadi sepanjang tahun. Kijang betina dapat melahirkan sepanjang tahun dengan usia kehamilan berkisar 6-7 bulan. Dalam sekali masa kehamilan, kijang melahirkan 1-2 ekor anak.

2. Pakan Rusa

Jenis hijauan pakan yang biasa dimakan rusa di habitat alaminya dapat dilihat pada jenis hijauan pakan yang diberikan di penangkaran biasanya rumput unggul, dan beberapa jenis rumput lainnya. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh satwa ruminansia adalah 10% dari berat tubuhnya.

Penggunaan energi seekor rusa betina untuk keperluan metabolisme, berdiri, berlari, berjalan (1,63 km per hari), mencari makan, bermain dan memamah biak rata-rata 1.908 kcal, sedangkan seekor rusa jantan untuk berbagai aktivitas membutuhkan energi 1.907 kcal.

Energi yang terkandung dalam hijauan (bahan kering) yang di-konsumsi rusa per ekor per hari yaitu 863 gram daun (per gram daun = 3,542 kcal) dan 107 gram (per gram rumput = 3,174 kcal) rumput, maka jumlah energi yang tersedia adalah 3.381 kcal (Mukhtar, 1996).

Selain pakan hijauan ada juga pakan tambahan yang dapat berupa konsentrat sebagai penguat antara lain dedak padi, jagung, ampas kelapa, dan ampas tahu (Dradjat, 2000). Menurut Semiadi dan Nugroho (2004) selain konsentrat, rusa dapat mengkonsumsi pakan tambahan lain misalnya sayuran, buah-buahan, bahkan limbah pertanian. Lebih lanjut dijelaskan nutrisi pada pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari air, protein, lemak, energi, mineral dan vitamin yang cukup, karena pada titik tertentu penggabungan protein, lemak dan energi akan menjadi sumber energi bagi rusa tersebut.

Misalnya dedak padi mengandung lemak dan energi yang lebih banyak yaitu sekitar 5% dan 68% dibanding rumput-rumputan yang hanya sekitar 3% dan 53% dan jenis pakan kacang-kacangan misalnya turi, lamtoro mengandung protein yang lebih tinggi yaitu 22% dibanding rumput-rumputan yang hanya sekitar 10-13%.

Terlepas dari apa yang menjadi pakan utamanya di habitat asli mereka masing-masing, rusa dapat dikatakan menyukai hampir segala jenis hijauan dan pakan tambahan serta mampu beradaptasi dengan perubahan pakan. Sehingga memelihara rusa di pandang dari sudut penyediaan pakan, bukanlah hal yang sulit.

Pemberian pakan haruslah disesuaikan dengan keadaan fisiologi rusa. Sesuai dengan pembagian fase fisiologinya, peternak rusa di luar negeri umum membaginya ke dalam kelompok :

  1. induk bunting
  2. induk menyusui
  3. jantan dewasa tumbuh ranggah muda
  4. jantan & betina dewasa siap kawin
  5. umur lepas sapih hingga umur potong.

Pada rusa bunting, ketersediaan air susu yang cukup saat anaknya lahir menjadi prioritas utama. Untuk itu pakan yang bernilai gizi tinggi sangat penting didapatkan. Yang dikehendaki adalah rusa tumbuh dengan cepat di umur lepas sapih dan berada dalam kondisi gemuk saat hendak dipotong dan dalam keadaan sehat di hari-hari biasa.

3.Manajemen Pakan

Manajemen pakan adalah penyediaan pakan yang memenuhi syarat teknis biologis sesuai kebutuhan satwa  dan secara teknis ekonomi murah dan mudah diperoleh serta tersedia secara kontinyu. Zat makanan  (zat gizi) pada satwa harus terdiri dari unsur-unsur penyusun bahan makanan, yaitu air dan bahan kering.

Bahan Kering terdiri atas zat organik  meliputi Senyawa bernitrogen (protein & Non-protein), lemak (lipid), karbohidrat,  dan vitamin;  dan zat anorganik (mineral) terdiri atas mineral esensial  (makro : Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S; &  mikro seperti Fe, Cu, I, Zn, Cr dsb) dan mineral non-esensial.

Syarat pakan untuk satwa adalah Seimbang (mengandung semua zat makanan yang diperlukan satwa dalam jumlah yang tepat untuk memenuhi semua fungsi fisiologis tubuh), bernilai gizi tinggi, cukup (jumlahnya terpenuhi sesuai   kebutuhan satwa (umur, sex, status produksi, musim)), palatable (sesuai preferensi (kesukaan) dan kebiasaan (habit) satwa), kontinyu (tersedia sepanjang waktu selama masa hdup satwa), dan tidak mengganggu kesehatan.

Strategi pemberian pakan adalah harus mempertimbangkan factor-faktor terkait relung pakan dari setiap jenis satwa yang dikelola, yakni: ukuran tubuh dan hubungannya dengan laju metabolism, susunan anatomi dan fisiologi saluran pencernaan (ruminansi/kompleks, cecal fermenter, monogastrik/simple), rasio antara volume saluran pencernaan dengan ukuran tubuh, dam struktur pemberian pakan khusus (dikaitkan dengan modifikasi mulut, appendage/kondisi usus, bentuk tubuh.

4. Areal Pengembangan Pakan

Areal pengembangan pakan merupakan salah satu sarana yang sangat penting didalam penangkaran karena produktivitas dan perkembangbiakan rusa sangat tergantung oleh pakan. Oleh karena itu perlu dikelola secara intensif untuk menjaga kualitas dan kuantitas jenis pakan. Jenis pakan yang ditanam disesuaikan dengan jenis-jenis yang disukai rusa, tahan terhadap kekeringan yang terdiri dari jenis rumput (poaceae) dan leguminosae.

Pakan rusa berupa hijauan, baik jenis rumput, rambatan maupun dedaunan, dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan hijauan rumput antara lain rumput gajah, rumput raja, rumput setaria, sorghum, dan rumput lapangan seperti kolonjono, rumput pait, a’awian, gewor, bayondah, dan padi-padian.

Pakan hijauan rambatan dan dedaunan, antara lain mikania, kangkung, daun ubi, daun kacang, kaliandra, daun jagung, daun nangka, daun jati, daun lamtoro, daun turi, daun beringin, daun Acacia l., daun mangkokan, daun nampong, dan daun gamal. Jenis pakan tambahan berupa dedak, kulit kacang, bungkil kelapa, kulit pisang, ubi, jagung dan kulitnya, wortel, pellet ternak Selain itu, diberikan pula vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik.

Pengadaan bahan tersebut digunakan untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa. Pakan diberikan 2 atau 3 kali sehari, terutama pagi dan sore hari, dengan rata-rata persentase kebutuhan pakan segar berdasarkan bobot badan (BB) rusa masing masing sebesar 28,70% – 18,75% (umur kurang dari 12 bulan), kemudian semakin menurun menjadi 19,60% – 13,91% (umur 12 – 24 bulan) dan 12,32% – 10,93% (umur 24–36 bulan). Waktu pemberian pakan terbanyak adalah pada sore hari.

5. Tempat Makan

Tempat makan yang biasa digunakan berbentuk palungan berukuran panjang 1,5 – 2,0 m dan lebar 0,5 m atau berbentuk bulat segi enam berukuran diameter 50 – 75 cm dengan tinggi 30 cm dari atas permukaan tanah. Bahan yang digunakan terdiri dari papan, kayu, atau seng polos atau licin.

Tempat makan diletakkan di tengah atau di sudut kandang dan diusahakan setiap kandang terdapat satu buah tempat makan. Tempat pakan harus mudah dijangkau petugas yang memberi pakan, tetapi penempatannya memungkinkan bagi rusa memakan dari segala arah. Tempat pakan diberi peneduh untuk menghindari pakan mudah kering karena kepanasan atau basah karena kehujanan.

Apabila jumlah rusa yang ditangkar cukup banyak dalam satu areal penangkaran, tempat pakan dapat dibuat di beberapa tempat agar tidak terjadi persaingan makanan antara individu rusa. Ukuran tempat pakan yang disesuaikan dengan jumlah rusa yang dipelihara.

Lantai tempat pakan dapat dibuat dari semen atau papan. Bentuk tempat pakan yang dibuat panggung akan mengurangi sisa pakan yang terbuang karena diinjak-injak atau bercampur dengan kotoran (faeses dan urine).

6. Tempat Minum

Rusa memerlukan air untuk minum, dan berkubang sehingga sebaiknya selalu bersih dan sering diganti. Pada musim kawin, rusa jantan sangat menyenangi air sebagai tempat berkubang.

Tempat minum yang digunakan berbentuk kolam dilengkapi dengan pembuangan untuk menghindari rusa jantan yang sering menanduk terutama apabila memasuki musim kawin. Letak tempat minum berada di tengah atau di sudut kandang dan setiap kandang diusahakan terdapat satu tempat minum.

7. Jalan Kontrol

Jalan kontrol berfungsi untuk pengontrolan dan pemberian pakan dengan lebar jalan 1,5 – 2,0 m dan sebaiknya terletak di sepanjang pinggiran kandang atau pagar.

8. Saluran Air

Air diperlukan untuk mengairi pakan, pemeliharaan kandang dan rusa. Penangkaran sebaiknya mempunyai bak penampung dan menara air lengkap dengan generator. Saluran air perlu dibersihkan setiap hari agar tidak tergenang dan menimbulkan bau yang kurang sedap, serta sebaiknya dibuat agak miring menuju tempat pembuangan.

9. Pemeliharaan Pakan

Pemeliharaan pakan dilakukan agar memperoleh pakan yang baik dan selalu tersedia secara kontinyu sepanjang musim, dengan cara pembersihan, pengolahan tanah, pemupukan, pendangiran, dan penyiraman. Pembersihan rumput liar dan pendangiran dilakukan tiga bulan sekali sedang pengolahan tanah dan pemupukan setahun sekali.

10. Teknik Pemberian Pakan

Pemberian pakan segar pada rusa didasarkan pada perhitungan 10% x bobot badan x 2. Maksud dikalikan dua yakni diperhitungkan dengan jumlah hijauan yang tidak dimakan karena sudah tua, tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak, dan telah bercampur dengan urine dan faeces. Pemberian pakan selalu disertai dengan pemberian garam sebagai perangsang nafsu makan dan untuk memenuhi kebutuhan mineral.

Pemberian pakan dilakukan dengan cara pengaritan dimana hijauan dipotong 3-5 cm lalu diberikan pada rusa dalam kandang, baik musim hujan maupun musim kemarau.

Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 atau 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore) sedang pemberian pakan tambahan berupa dedak padi diberikan tiga kali dalam seminggu, sebanyak 0,5 kg/individu.

Pemberian pakan pada rusa bunting, harus lebih intensif baik kualitas maupun kuantitas karena peranan makanan sangat penting untuk pertumbuhan janin di dalam rahim dan juga berguna untuk mempertahankan kondisi tubuh induk. Sedang pemberian pakan pada anak rusa, dimulai pada umur dua minggu dengan cara memberikan hijauan muda (pucuk) yang dipotong kecil-kecil. Selain itu, dilakukan pula pemberian vitamin organik, obat-obatan, dan pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan reproduksi rusa, serta mengurangi bau kotoran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *