Integrasi Tanaman Singkong Dan Usaha Peternakan Dengan Konsep Sistem Pertanian Terpadu

Integrasi Tanaman Singkong Dan Usaha Peternakan Dengan Konsep Sistem Pertanian Terpadu

Daratan Indonesia secara umum dibedakan menjadi dua wilayah iklim, yaitu di Kawasan Barat beriklim basah, dan di sebagian Kawasan Timur Indonesia beriklim kering. Selain variabilitas iklim, daratan Indonesia juga mempunyai berbagai jenis tanah, bahan induk, bentuk wilayah dan ketinggian tempat. Berbagai jenis tanah akibat adanya variabilitas berbagai faktor pembentukannya, merupakan salah satu modal yang sangat besar dalam memproduksi berbagai komoditas pertanian ataupun peternakan secara berkelanjutan baik kualitas maupun kuantitasnya.

Luas lahan di Indonesia yang saat ini bukan lagi berupa kawasan hutan, tetapi telah menjadi lahan pertanian atau lahan yang pernah digunakan adalah 70,2 juta ha, yang terdiri atas sawah, tegalan, pekarangan, perkebunan, padang penggembalaan, kayu-kayuan dan tambak/kolam (BBSDLP, 2008). Luas lahan terlantar (lahan tidur) tercatat 11.3 juta ha, sehingga lahan pertanian yang efektif hanya seluas 58,9 juta ha (termasuk padang penggembalaan, kayu-kayuan dan tambak). Lahan sawah cenderung menciut akibat adanya alih fungsi lahan dengan laju rata-rata 1,0-1,5% atau sekitar 75-90 ribu ha per tahun yang tidak terimbangi oleh pencetakan sawah baru. Bahkan 42% lahan sawah irigasi terancam beralih fungsi sebagaimana tertuang dalam RT-RW Kabupaten/ Kota seluruh Indonesia. Lahan perkebunan mengalami perluasan areal yang cukup pesat dalam 20 tahun terakhir, yaitu dari 8,77 juta ha pada tahun 1986 menjadi 18,5 juta ha pada tahun 2006. Dalam kurun waktu tersebut, kelapa sawit merupakan komoditas primadona yang mendominasi pemanfaatan lahan pertanian, yaitu dari 0,6 juta menjadi 6,3 juta ha

Informasi dan data potensi lahan di Indonesia masih sangat bervariasi, di mana data yang rinci masih terbatas. Berdasarkan hasil kajian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007), yang utamanya didasarkan pada hasil pemetaan sumber daya lahan tingkat tinjau, dari total daratan Indonesia seluas 188,2 juta ha, lahan yang berpotensi atau sesuai untuk pertanian seluas 94 juta ha, yaitu 25,4 juta ha untuk pertanian lahan basah (sawah) dan 68,6 juta ha untuk pertanian lahan kering. Lahan basah adalah lahan-lahan yang secara biofisik sesuai untuk pengembangan lahan sawah. Lahan basah yang sesuai untuk lahan sawah seluas 25,4 juta ha, terluas terdapat di Papua (7,4 juta ha), kemudian yang lainnya terdapat di Kalimantan Tengah (2,3 juta ha), Kalimantan Barat (1,8 juta ha), Jawa Tengah (1,6 juta ha), Jawa Timur (1,5 juta ha), Riau (1,1 juta ha), dan provinsi lainnya di bawah 1 juta ha. Lahan kering didefinisikan sebagai hamparan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu. Lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim seluas 25,09 juta ha, terluas terdapat di Kalimantan Timur (5,5 juta ha), kemudian yang lainnya terdapat di Papua (4,2 juta ha), Sumatera Utara (2,8 juta ha), Sumatera Selatan (1,6 juta ha), Kalimantan Barat (1,7 juta ha), Lampung (1,3 juta ha), dan provinsi lainnya di bawah 1 juta ha. (Hidaya dan Mulyani, 2002).

Sumber daya lahan di Indonesia sangat luas dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan ke arah yang efisien, tidak ditelantarkan begitu saja. Sumber daya lahan yang semakin terbatas menyebabkan penggunaan lahan lebih diprioritaskan untuk tanaman pangan, perkebunan dan holtikultural. Maka dari itu lahan kosong untuk peternakan dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki lahan sub optimal yang cukup luas.

Sektor peternakan merupakan sektor yang sangat penting di Indonesia untuk menjaga ketahanan Pangan. Daging sapi potong, kambing potong, domba maupun unggas telah menjadi salah satu bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya konsumsi daging nasional yang harus dipenuhi. Kebijakan impor dilakukan dalam rangka mendukung kekurangan dalam negeri. Sampai saat ini Indonesia masih kekurangan pasokan daging hingga 35% atau 135,1 ribu ton dari kebutuhan 385 ribu ton. Defisit populasi sapi diperkirakan 10,7% dari populasi ideal atau sekitar 1,18 juta ekor (Prima, 2008).

Menurut BAPPENAS (2011), Program Swasembada Daging sapi (PSDS) Tahun 2014, merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam lima tahun terakhir, yang ke depan perlu dilaksanakan untuk mewujudkan ketahanan pangan asal ternak berbasis sumber daya lokal. Swasembada ini menjadi tantangan karena pada tahun 2009 impor daging mencapai 70 ribu ton dan sapi bakalan setara dengan 250,8 ribu ton daging (Dijenak, 2010). Permintaan daging sapi, kambing, maupun unggas meningkat, tetapi masih sulit dalam pemenuhannya. Kesenjangan tersebut terjadi tiap tahun, diduga karena adanya peningkatan jumlah masyarakat yang berpendapat menengah ke atas yang meningkat konsumsinya.

Peningkatan tersebut tercermin dari peningkatan konsumsi daging dari 1,95 kg per kapita (2007) menjadi 2 kg per kapita (2008) dan 2,24 kg per kapita (2009) yang berdampak pada peningkatan kebutuhan daging sapi dan jeroan dari 455,755 ton pada tahun 2008 menjadi 526,603 ton pada tahun 2009. Kebutuhan daging setara dengan jumlah sapi sebanyak 2,432 juta ekor sapi pada tahun 2008 dan 2,746 ekor sapi pada tahun 2009 (Australian Bereu of Statistif, 2009). Konsumsi dan penawaran daging berfluktuasi dan cenderung meningkat lebih cepat dari peningkatan populasi. Tahun 2009-2013 konsumsi daging tumbuh dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan penawaran. Fenomena ini akan memicu peningkatan harga daging, yang selanjutnya bisa merangsang peternak rakyat untuk menjual sapinya, termasuk sapi betina produktif yang perlu diwaspadai (BPS dan Statistik Peternakan, 2009).

Oleh sebab itu, pemanfaatan lahan kosong untuk usaha peternakan sangat penting dilakukan maupun lahan basah dan lahan kering. Jumlah lahan kosong di Indonesia sangat besar. Perlu dilakukan integrasi tanaman holtikultural sebagai bahan pakan dan ternak. Integrasi telah banyak dilakukan oleh badan-badan pemerintahan dan perusahaan. Karena integrasi lahan kosong dengan usaha peternakan merupakan terobosan yang sangat baik untuk dilakukan. Integrasi tersebut mampu meningkatkan produksi daging di Indonesia dari tahun ke tahun sehingga mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan daging masyarakat di Indonesia dan jumlah daging di Indonesia.

Integrasi tersebut telah banyak dilakukan seperti integrasi perkebunan kelapa sawit dengan ternak, integrasi kelapa dengan usaha peternakan, integrasi tanaman singkong dengan ternak, integrasi limbah tanaman holtikultural yang dijadikan bahan pakan untuk ternak dan integrasi tanaman ubi kayu dengan ternak. Di sini penulis akan memfokuskan pembahasan tentang singkong dengan ternak ruminansia dan non ruminnansia karena memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan mampu meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.

Sistem Integrasi Singkong dan Ternak.

Berdasarkan BPS (2006) diketahui bahwa Indonesia merupakan penghasil singkong nomor 4 terbesar di dunia, dengan produksi basa pada tahun 2005 adalah sebesar 20 ton/ha. Produktif/ha yang cukup tinggi ini sangat berpeluang untuk dipakai sebagai bahan pakan alternatif atau sumber energi lainnya untuk ternak. Melihat potensi ini dan dalam rangka meningkatkan secara nyata kesejahteraan masyarakat petani singkong dan peternak serta pemanfaatan lahan kosong untuk tanaman singkong dengan ternak mengurangi terkurasnya devisa negara akibat impor pakan, meningkatkan produksi daging, serta tercapai ketahanan pangan.

Singkong (Manihot esculenta) merupakan tanaman yang bisa tumbuh di lahan kering. Tanaman ini mudah dibudidayakan tanpa perawatan khusus, Indonesia merupakan penghasil singkong nomor 4 terbesar di dunia dan produksinya konstan serta berkesinambungan dari tahun ke tahun. Potensi tanaman singkong sebagai pakan ternak sudah dikaji oleh beberapa peneliti dan telah diketahui pengaruhnya pada unggas, babi dan hewan ruminansia lainnya, khususnya sumber protein dan sumber energi. Umbi singkong rendah akan protein, di mana 80% BETNnya adalah pati dan 20% gula. Pati dalam umbi singkong kaya akan amilopektin (70%) dan baik digunakan sebagai sumber energi ruminansia, khususnya bila dikombinasikan dengan NPN pada pakan. Sepertinya umbinya, kulit singkong digunakan sebagai sumber energi. Sebaliknya, daun singkong kaya akan protein (25%) bagi ternak ruminansia.

Umbi singkong bisa dijadikan bahan pakan alternatif hijauan pakan ternak seperti rumput dan legum. Kandungan nutrisi umbi singkong sangat baik daripada rumput dan legum yang biasa dijadikan pakan ternak di masyarakat desa. Integrasi ini dapat menguntungkan para petani singkong dan terjadi hubungan timbal balik dengan peternak sehingga maksimal tercapai pemanfaatan lahan kosong. Lahan kosong tersebut ditanami oleh tanaman singkong dan sebagai lahan penggembalaan bagi ternak.

Meskipun demikian, tanaman singkong juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah adanya kandungan toksik pada tanaman singkong berupa asam sianida (HCN) yang menyebabkan penggunaannya pada unggas menjadi terbatas. Tanaman singkong mengandung dua jenis glikosida sianogenik berupa lotaustarin dan linamarin yang bersifat toksik. Asam sianida inilah yang menyebabkan ketersediaan asam amino metionin dalam singkong menjadi rendah. Akan tetapi, sifat toksik ini dapat dihilangkan melalui pemanasan. Selain itu, tanaman singkong terutama daunnya bersifat voluminous sehingga tidak efisien dari segi transportasi. Singkong merupakan tanaman yang boros dalam mengambil unsur hara, sehingga sering menyurutkan niat investor untuk berkecimpung menggeluti usaha tanaman.

Pemanfaatan tanaman singkong yang optimal sebagai pakan ruminansia salah satunya adalah dengan menerapkan model integrasi tanaman singkong dengan usaha budidaya ternak ruminansia. Model singkong ternak terpadu ini berprinsip bahwa ternak yang mendatangi sumber pakan. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah.

  1. Pemeliharaan ternak ruminansia di sekitar perkebunan singkong.

Pemanfaatan tanaman singkong dalam usaha pengembangan peternakan di sekitar atau dekat lahan penanaman singkong dilakukan dalam upaya memanfaatkan daun dan umbi singkong afkir dan kulit singkong sebagai pakan ternak kambing, kerbau dan sapi. Melalui cara ini, ternak dipelihara di dekat kebun singkong, kemudian diberi hasil ikutan (Crop residue) tanaman singkong seperti daun, umbi afkir dan kulit singkong. Cara ini cukup menguntungkan karena selama budidaya tanaman singkong, feses yang dihasilkan oleh ternak, dapat digunakan sebagai pupuk organik supaya kesuburan tanah tetap terjaga. Sebagai contoh, dengan produksi daun-daunan singkong sebesar 1,2 ton/ha, maka mampu memenuhi kebutuhan 2 ekor sapi atau kerbau selama periode penggemukan atau setara dengan 14 ekor ruminansia kecil (kambing/domba).

Tanaman singkong yang dipanen (umbi) dijual ke pabrik pembuatan tapioka ataupun keripik. Produk limbah dari pengolahan singkong tersebut (kulit dan onggok) dapat dijadikan sebagai pakan ternak.

  1. Pemeliharaan ternak di sekitar pabrik tapioka/keripik.

Setiap hari lebih dari puluhan ton singkong untuk dijadikan bahan pangan, yaitu tapioka atau keripik. Kemudian limbah dari produk tersebut berupa kulit dan onggok dapat dijadikan pakan ternak. Perusahaan dapat memanfaatkan lahan di sekitar pabrik tapioka untuk dijadikan usaha peternakan. Perusahaan juga ikut andil dalam bagian ini, sehingga akan meningkatkan produksi hasil ternak dan dapat memenuhi kebutuhan daging masyarakat Indonesia.

Penerapan sistem Farm Terpadu melalui kombinasi budidaya ternak ruminansia dan non ruminansia diduga lebih efektif dalam pengoptimalan penggunaan tanaman singkong. Agar tujuan tersebut dapat terlaksana, maka upaya yang dapat dilakukan adalah pemeliharaan ternak di sekitar perkebunan. Memalui sistem Farm Terpadu ini, ternak non-ruminansia (unggas, ayam petelur) diprioritaskan untuk memanfaatkan singkong kering (gaplek) dan daunnya sebagai sumber energi dan protein. Sedangkan kulit, daun dan ubi kayu yang sudah afkir dijadikan pakan ternak ruminansia (sapi potong). Integrasi ternak pada usaha pokok perkebunan singkong mempunyai peluang dan harapan yang besar karena cukup banyak petani dan peternak yang bergerak di bidang tersebut. Pengusaha produk tepung tapioka dan keripik cukup banyak di Indonesia dan lahan yang dimiliki pengusaha tersebut berpotensi untuk mengembangkan sistem Farm Terpadu ini.

Model Integrasi Sapi dan Singkong

Gambar 1. Model Integrasi Sapi dan Singkong

Pembangunan peternakan merupakan salah satu aspek dalam pembangunan pertanian, sehingga peranan petani dan peternak sangat menentukan keberhasilan pembangunan tersebut. Tantangan utama yang dihadapi sektor peternakan saat ini adalah bagaimana untuk menghasilkan produk peternakan yang berdaya saing tinggi baik kualitas, kuantitas, ragam maupun harga melalui optimalisasi penggunaan pakan lokal sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global.

Dilihat dari segi analisis ekonomi keuntungan seorang petani singkong yang mempunyai tanah seluas 1 ha dengan asumsi biaya untuk penanaman pola monokultur selama satu musim tanam (8 bulan). Maka dapat dikatakan rata-rata keuntungan petani singkong Rp 2.8000.000. Artinya petani tersebut hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp 350.000 per bulan. Keuntungan tersebut sungguh tidak layak jika dipakai sebagai usaha utama seorang petani. Nilai keuntungan yang diperoleh seorang petani tentunya akan meningkat jika usahanya diintegrasikan dengan peternakan (ruminansia dan/atau non-ruminansia).

Model integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan pertanian terpadu adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian. Model ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian digunakan untuk pakan ternak. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi keuntungan hasil usaha taninya.

Lahan potensial maupun lahan tersedia untuk perluasan areal pertanian di Indonesia masih cukup luas, namun dengan semakin derasnya kebutuhan akan lahan, baik lahan untuk pertanian maupun non pertanian, maka perlu kehati-hatian dalam penggunaannya. Kompetisi penggunaan lahan pada masa yang akan datang sebagai konsekuensi dari upaya mempertahankan ketahanan pangan nasional dan pengembangan bioenergi (bio-fuel) perlu segera diatasi. Peningkatan produktivitas (intensifikasi), terutama pada lahan eksisting, perluasan aeral baru berbasis arahan peruntukan yang tepat, dan pengembangan inovasi teknologi unggulan adalah hal yang dapat dilakukan. Maka dari itu, pemanfaatan lahan kosong untuk pengembangan sistem integrasi perkebunan, pertanian dan peternakan merupakan inovasi yang tepat dan efisien sebagai terbosan dari masalah-masalah ketahanan pangan di Indonesia. Integrasi tersebut dapat meningkatkan produksi pangan agar tercapainya target kebutuhan pangan masyarakat Indonesia serta meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Tidak ada keraguan mengenai manfaat integrasi tanaman singkong dengan usaha peternakan baik bagi petani maupun peternak. Integrasi perkebunan, pertanian dan peternakan merupakan strategi terbaik mengatasi kelangkaan sumber daya dalam produksi pangan agar dapat mencukupi pangan itu sendiri yang terus menerus meningkat. Dengan integrasi ini semua aktivitas pertanian secara ekonomi dapat menguntungkan dan secara ekologi berkelanjutan. Dengan integrasi perkebunan, pertanian dan peternakan dapat menjawab tuntutan konsumen yang sadar mengenai pentingnya kelestarian lingkungan, kesehatan dan keamanan pangan, serta kesejahteraan tenaga kerja.

Dengan sistem integrasi ini dapat mencapai target 17 Tujuan Global program pembangunan berkelanjutan dunia yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ke 2 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, serta mencanang pertanian berkelanjutan. Demi tercapainya tujuan tersebut sektor pertanian merupakan aspek yang paling mendasar untuk mengatasi kelaparan dan mencapai ketahanan pangan di seluruh dunia. Dunia tidak lepas yang namanya pertanian, perkebunan dan peternakan. Karena sektor tersebut merupakan hal yang paling krusial untuk tercapainya tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) demi terwujudnya Indonesia sejahtera

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F. dan Irawan. 2006. Agricultural land conversion as a threat to food security and environmental quality. Hlm 101- 121. Dalam Prosiding Multifungsi dan Revitalisasi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis: Tinjauan Aspek Kesesuaian Lahan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Edisi II. Hlm 30.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP). 2010. Rencana Strategis Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian 2010-2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat). 2004. Atlas Sumberdaya Iklim/Agroklimat. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Bogor

Frac, M., K. Oszust, and J. Lipiec. 2012. Community level physiological profiles (CLPP), characterization and microbial activity of soil amended with dairy sewage sludge. Sensors 12: 3253-3268.

Insam, H., M. Gomez-Brandon, and J. Ascher. 2015. Manure-based biogas fermentation residues: Friend or foe of soil fertility? Soil Biol. Biochem. 84: 1-14.

Kementerian Pertanian RI. 2015. Renstra Kementan Tahun 2015-2019. Jakarta

Khampa, S. and M. Wanapat. 2006. Supplementation levels of concentrate containing high level of cassava chip on rumen ecology and microbial protein synthesis in cattle. Pakistan J. Nut. 5(6): 501 – 506.

Mariyono, Y. N. Anggraeny dan L. Kiagega. 2008. Teknologi alternatif pemberian pakan sapi potong untuk wilayah industri bagian Timur. Pros. Seminar Nasional Sapi Potong. Palu, 24 November 2008. BPTP Sulawesi Tengah. hlm. 151 – 159.

Osak, R.E.M.F, B. Hartono, Z. Fanani, H.D. Utami. 2015. Profil sistem integrasi usaha sapi perah dengan tanaman hortikultura di Nangkojajar Kec. Tutur Kab. Pasuruan. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. 25(2): 49-61.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *