IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI PENDUKUNG TUMBUH KEMBANG WAWASAN KEBANGSAAN DI MTsN 1 PADANGSIDIMPUAN

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI PENDUKUNG TUMBUH KEMBANG WAWASAN KEBANGSAAN DI MTsN 1 PADANGSIDIMPUAN

Siswa MTs Negeri 1 Padangsidimpuan pada pergaulan sehari-hari dilingkungan sekolah sudah menunjukkan nilai-nilai individualistik, kepribadian dan keimanan semakin jauh. Contohnya: siswa banyak yang tidak bisa sholat dan mengaji; tidak peduli kalau melihat temannya sedang mengalami kesulitan dan kesusahan, malahan mereka senang melihat hal itu; tidak peduli dengan kebersihan lingkungan, kurang sopan kalau berbicara dengan guru dan teman; banyak yang tidak hapal Pancasila. Karena timbulnya hal-hal tersebut membuat penulis mengadakan observasi di MTs Negeri 1 Padangsidimpuan. Kecenderungan semakin memudarnya Wawasan Kebangsaan tercermin dari perilaku hidup yang semakin memprihatinkan.

Sentimen dan fanatisme suku, ras dan antar golongan semakin menonjol sehingga seringkali rentan terhadap terjadinya gesekan-gesekan dan konflik bernuansa SARA di berbagai daerah. Kondisi tersebut diperparah oleh perbuatan sebagian kelompok masyarakat yang secara sadar menjual bangsanya sendiri kepada bangsa asing dengan menguasai isu-isu HAM, Demokratisasi dan lingkungan hidup untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Sulit rasanya bagi bangsa Indonesia untuk kembali bangkit dari keterpurukan saat ini di tengah deras masuknya faham asing yang bertentangan dengan paham Pancasila sehingga ancaman terjadinya disintegrasi bangsa tanpa disadari telah mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.

Rasa kebangsaan warga negara Indonesia saat ini hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong, seperti kasus pengklaiman beberapa kebudayaan dan pulau-pulau kecil Indonesia seperti Sipadan, Ligitan, serta Ambalat oleh Malaysia beberapa waktu yang lalu. Namun rasa kebangsaan itu kembali berkurang seiring dengan meredanya konflik tersebut. Dengan memudarnya rasa kebangsaan dapat mengancam dan menghancurkan bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena nilai-nilai Pancasila sebagai tumbuh kembang wawasan kebangsaan menjadi lemah dan dapat dengan mudah ditembus oleh pihak luar. Sekarang bukan dijajah dalam bentuk fisik, namun dijajah secara mental dan ideologi. Banyak sekali kebudayaan dan paham barat yang masuk ke dalam bangsa Indonesia yang berpengaruh negatif dapat dengan mudah masuk dan diterima oleh bangsa Indonesia. Dengan terjadinya hal itu, maka akan terjadi akulturasi, bahkan menghilangnya kebudayaan dan kepribadian bangsa yang seharusnya menjadi jati diri bangsa. Pada prinsipnya Pancasila dibangun di atas kesadaran adanya kompleksitas, heterogenitas atau pluralitas kenyataan dan pandangan. Artinya segala sesuatu yang mengatasnamakan Pancasila tetapi tidak memperhatikan prinsip ini, maka akan gagal.

Berbagai ketentuan normatif tersebut antara lain: Pertama, Sila ke-3 Pancasila secara eksplisit disebutkan “Persatuan Indonesia“. Kedua, Penjelasan UUD 1945 tentang Pokok-pokok Pikiran dalam Pembukaan terutama pokok pikiran pertama. Ketiga, Pasal-Pasal UUD 1945 tentang Warga Negara, terutama tentang hak-hak menjadi warga negara. Keempat, Pengakuan terhadap keunikan dan kekhasan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia juga diakui, (1) seperti yang terdapat dalam penjelasan UUD 1945 tentang Pemerintahan Daerah yang mengakui kekhasan daerah, (2) Penjelasan Pasal 32 UUD 1945 tentang puncak-puncak kebudayaan daerah dan penerimaan atas budaya asing yang sesuai dengan budaya Indonesia; (3) penjelasan Pasal 36 tentang peng-hormatan terhadap bahasabahasa daerah. Kiranya dapat disimpulkan bahwa secara normatif, para founding fathers negara Indonesia sangat menjunjung tinggi pluralitas yang ada di dalam bangsa Indonesia, baik pluralitas pemerintahan daerah, kebudayaan, bahasa dan lain-lain.

Melihat perkembangan Wawasan Kebangsaan yang dimiliki komponen bangsa saat ini, apabila dibiarkan dapat dipastikan NKRI yang sangat kita cintai ini akan berimplikasi terhadap hal-hal sebagai berikut: (1) tidak terlaksananya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila terutama paham kebangsaan; (2) tidak terlaksananya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila terutama rasa kebangsaan; (3) tidak terlaksananya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila terutama semangat kebangsaan. Revolusi mental harus dimulai dari pendidikan, mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa diwujudkan melalui ranah pendidikan. Menurut Suprapto (2014) pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process). Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis, pendidikan karakter harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi (Kristiawan, 2016).

Menurut Suhady dan Sinaga (2006), Wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai sudut pandang/cara memandang yang mengadung kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk memahami keberadaan jati diri sebagai suatu bangsa dalam memandang dirinya dan bertingkah laku sesuai falsafah hidup bangsa dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Konsep kebangsaan merupakan hal yang sangat mendasar bagi bangsa Indonesia. Dalam kenyataannya konsep kebangsaan itu telah dijadikan dasar negara dan ideologi nasional yang tercantum di dalam Pancasila sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 Alinea keempat. Konsep kebangsaan itulah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Dorongan yang melahirkan kebangsaan kita bersumber dari perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan, memulihkan martabat kita sebagai manusia. Wawasan kebangsaan Indonesia menolak segala diskriminasi suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial. Konsep kebangsaan kita bertujuan membangun dan mengembangkan persatuan dan kesatuan. Wawasan kebangsaan Indonesia tidak mengenal adanya warga negara kelas satu, kelas dua, mayoritas atau minoritas. Hal ini dibuktikan dengan tidak dipergunakannya bahasa Jawa misalnya sebagai bahasa nasional tetapi justru bahasa melayu yang kemudian berkembang menjaadi bahasa Indonesia. Wawasan kebangsaan mengandung tiga unsur dasar, yaitu wadah (contour), isi (content), dan tata laku (conduct). Wadah (contour) meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sifat serba nusantara dengan kekayaan alam dan penduduk serta aneka ragam budaya. Bangsa Indonesia memiliki sebuah organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai kegiatan kenegaraan dalam wujud supra struktur politik, sedangkan wadah kehidupan bermasyarakat adalah berbagai kelembagaan dalam wujud infra struktur politik.

Dalam konteks kehidupan global Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan selain harus meneguhkan keadaban Pancasila juga harus membekali siswa untuk hidup dalam kancah global sebagai warga dunia (global citizenship). Oleh karena itu, substansi dari tumbuh kembang wawasan kebangsaaan perlu diorientasikan untuk membekali warga negara Indonesia agar mampu hidup dan berkontribusi secara optimal sesuai dinamika kehidupan abad 21. Untuk itu, pembelajaran tersebut selain mengembangkan nilai dan moral Pancasila, juga mengembangkan semua visi dan keterampilan abad ke-21 sebagaimana telah menjadi komitmen global.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 indikator keberhasilan sistem pendidikan nasional khususnya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Hal ini diperlukan untuk: (1) menyatukan tekad menjadi bangsa yang kuat, dihormati dan disegani oleh bangsa lain; (2) mempererat persatuan dan kesatuan, baik dalam spirit maupun geografi. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai pendukung tumbuh kembang wawasan kebangsaan, maka perlu ditentukan indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan tersebut. Indikator tersebut, antara lain: (1) penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa; (2) Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan berdaulat; (3) cinta akan tanah air dan bangsa; (4) demokrasi atau kedaulatan rakyat; (5) kesetiakawanan sosial; (6) masyarakat adil dan makmur.

Implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai pendukung tumbuh kembang wawasan kebangsaan di MTs Negeri 1 Padangsidimpuan sudah terlihat antara lain:

  1. implementasi nilai Ketuhanan: setiap hari pada jam 07.15 siswa melakukan kegiatan tilawah al-Quran di hadapan para siswa dan guru. Setiap waktu Zuhur para guru dan siswa melakukan sholat berjama’ah di Mesjid sekolah
  2. implementasi nilai Kemanusiaan: peduli kalau melihat temannya sedang mengalami kesulitan dan kesusahan dengan menyumbang ataupun menjenguk temannya yang mengalami musibah; menjenguk temannya yang sakit, saling menyayangi dengan temannya, sopan kalau berbicara guru dan teman
  3. implementasi nilai Persatuan: membersihkan ruangan kelas dan halaman dengan instruksi dari guru masing-masing; upacara bendera setiap hari senin pagi yang dilaksanakan dengan hikmat; kegiatan pramuka; lomba-lomba waktu class meeting; sudah banyak yang hapal Pancasila dan surah-surah pendek al-Quran dengan diterapkannya sebelum pelajaran dimulai
  4. implementasi nilai Kerakyatan: siswa mempunyai keberanian untuk bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahaminya; siswa juga berani untuk menanggapi apa yang diajarkan oleh guru, siswa melakukan musyawarah dalam pemilihan ketua kelas
  5. implementasi nilai Keadilan: dalam penerimaan siswa baru sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya, bukan karena uang yang lebih besar dari yang lainnya seseorang siswa itu diterima; di ruang BK setiap siswa yang bermasalah baik akademik, biaya atau lainnya boleh meminta bantuan kepada sekolah.

Hasil ini didukung oleh hasil penelitian Ahmad dkk (2017) yang menyebutkan Guru-guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III terlibat dalam proses pembelajaran, diskusi, dan mengambil inisiatif sebagai upaya membangun pendidikan karakter. SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III mengimplementasikan pembelajaran karakter adalah melalui Pendekatan Holistik, yaitu perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah.mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, S., Kristiawan, M., Tobari, T., & Suhono, S. (2017). Desain Pembelajaran SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III Berbasis Karakter Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Iqra (Educational Journal), 2(2), 403-432.

Depdiknas. (2003). Media pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.

Kristiawan, M. (2015). A Model of Educational Character in High School Al-Istiqamah Simpang Empat, West Pasaman, West Sumatera. Research Journal of Education, 1(2), 15-20.

Kristiawan, M. (2016). Telaah Revolusi Mental Dan Pendidikan Karakter Dalam Pembentukkan Sumber Daya Manusia Indonesia Yang Pandai dan Berakhlak Mulia. Ta’dib, 18(1), 13-25.

Santoso Budi, dkk. (2005). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia.

Sugiyono. (2007). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.

Suhady, Idup dan A.M. Sinaga. (2006). Wawasan Kebangsaan Dalam Kerangka NKRI. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara-Republik Indonesia.

Suprapto (2014). Mental revolution from education. Unika Darma Cendikia: Surabaya.: http://www.jawapos.com/baca/artikel/66 69/revolusi-mental-dimulai-daripendidikan.

Suyatno (2010). Developing cultural education and national character. Article presented on National Forum by Kopertis 3 Jakarta.

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: CV Tamita Utama.

Winarno. (2007). Paradigma Baru: Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: PT. Bumi Aksara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *