Home / Peternakan / HAY (PENGERINGAN HIJAUAN TERNAK)
Hay

HAY (PENGERINGAN HIJAUAN TERNAK)

Ketersediaan sumber bahan pakan, baik sebagai pakan dasar maupun pakan tambahan adalah hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan peternak dalam meningkatkan produktivitas ternak ruminansia, terutama di daerah yang beriklim tropis. Bila dibandingkan dengan daerah yang beriklim humid tropik, peternak yang berada di daerah tropik yang lebih kering selalu berhadapan dengan tidak tersedianya suplai pakan ternak dengan kualitas yang baik sepanjang tahun, terutama selama musim kemarau (Noula et al., 2004).

Untuk itu sangat diperlukan sumber pakan alternatif untuk menjamin peningkatan produksi ternak. Pemanfaatan limbah pertanian sangat diperlukan dalam melakukan pengolahan pakan ternak sebagai pakan alternatif.

Limbah pertanian mempunyai sifat sebagai berikut:

  1. Nilai nutrisi rendah protein dan kecernaannya,
  2. Bersifat bulky biaya angkutan menjadi mahal karena membutuhkan tempat yang lebih banyak untuk satuan berat tertentu
  3. Kelembabannya tinggi menyulitkan penyimpanan
  4. Sering terdapat komponen yang kurang disukai ternak dan mengandung racun
  5. Polusi yang potensial dan penampilannya kurang menyenangkan (Devendra, 1980).

Menurut pakar Nutrisia Ruminansia Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Hendrawan S, M.Rur.Sc, bahwa pengawetan hijauan seperti hay dan silase menjadi solusi laternatif untuk mengatasi krisis pakan ternak saat musim kemarau yang melanda wilayah Indonesia. Dalam dunia peternakan, hay adalah rumput yang sengaja dikeringkan.

Metode pengeringan rumput ini sering digunakan oleh peternak kecil atau peternakan rakyat. Sedangkan silase adalah hijauan segar yang difermentasi, dibuat dari tanaman yang dicacah disimpan dalam silo kemudian dipadatkan untuk menghilangkan oksigen (anaerob) dan ditambahi tetes tebu.

Pengawetan hijauan bertujuan:

  1. Agar pemberian hijauan sebagai pakan ternak dapat berlangsung secara merata sepanjang tahun
  2. Untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau dilaksanakan pengawetan misalnya: jerami padi, sisa tanaman jagung, kacang-kacangan, dll

Pengawetan tersebut akan berdampak pada keadaan fisik serta komposisi kimia hijauan tersebut antara lain dengan kehilangan sebagian dari zat makanan (gizi tanaman/nutrien) yang nantinya akan berdampak pada nilai nutrisi hijaun  tersebut.

Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak berupa rumput-rumputan/leguminosa, kemudian disimpan dalam bentuk kering, dengan kadar air 20-30%. Tujuannya untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada priode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memiliki daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.

Dua metode pembuatan hay yang diterapkan yaitu:

1. Metode Hamparan

Merupakan metode sederhana yaitu dengan cara menghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di bolak balik hingga kering, dengan kadar air 20-30% dan warna kecoklatan.

2. Metode Pod

Menggunakan semaian rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang tidak dijemur selama 1-3 hari (kadar air  ±  50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal) sehingga hay diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna gosong) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

Cara Pengeringan

1. Panas buatan

  • Dikeringkan pada alat pengering yang mempunyai temperatur tinggi

2. Panas matahari

  • Hijauan diserakkan diatas pelataran/rak-rak pengering
  • Hijauan harus dibolak balik setiap 1-2 jam waktu pengeringan dilakukan beberapa hari kadar air 15-20%.

3. Panas fermentasi

  • Hijauan yang telah dipotong dari lapangan ditumpuk dalam gudang      fermentasi dalam tumpukan tersebut.
  • Panas yang timbul akibat fermentasi akan menyiapkan air dari hijauan.

Kualitas Hay

  • Warna: hijauan kekuningan dan cerah
  • Bau: tidak tengik
  • Tekstur/keadaan fisik: tidak terlalu kering, sehingga kalau dipatahkan tidak patah
  • Kebersihan: tidak berjamur, berpasir atau batuan lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *