Home / Peternakan / FERMENTASI ECENG GONDOK DENGAN MENGGUNAKAN EM-4
FERMENTASI ECENG GONDOK DENGAN MENGGUNAKAN EM-4

FERMENTASI ECENG GONDOK DENGAN MENGGUNAKAN EM-4

Eceng gondok tumbuh dengan cepat sehingga perlu dilakukan upaya untuk menanganinya agar tidak mengganggu dan merusak lingkungan. Salah satu pemanfaatannya adalah dijadikan pakan ternak sehingga gulma perairan ini menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Hal ini dimungkinkan karena kandungan eceng gondok tinggi. Eceng gondok mengandung bahan kering 7%, protein kasar 11,2%, serat kasar 18,3%, BETN 57%, lemak kasar 0,9%, abu 12,6%, Ca 1,4% dan P sebesar 0,3%. Ecng gondok memang sangat potensial untuk pakan ternak karena mengandung protein tinggi namun satu kelemahan eceng gondok adalah merupakan bahan pakan yang kecernaannya rendah karena banyak mengandung serat kasar.

Sampai saat ini telah banyak dilakukan penelitian tentang pemanfaatan eceng gondok untuk pakan ternak. Penelitian ini meliputi eceng gondok untuk pakan ternak itik, dan menghasilkan telur itik yang kadar proteinnya tinggi.

Eceng gondok juga bagus sebagai pakan ikan nila merah, maupun pakan hewan ruminansia seperti kambing karena kandungan protein yang tinggi dan karbohidrat tercernanya juga tinggi setelah difermentasi. Kadar protein daging kambing yang diberi pakan eceng gondok 1% lebih tinggi dari pada kambing dengan pakan konvensional.

Eceng gondok memiliki potensi yang besar untuk pakan, baik untuk ternak ruminansia yaitu sapi, domba dan kambing maupun nonruminansia yaitu unggas dan kelinci. Penggunaan eceng gondok sampai 15% tidak berpengaruh terhadap konsumsi, bobot badan hidup dan konversi pakan. Pada penggunaan eceng gondok segar sebagai pakan sapi pada fase pertumbuhan penggunaannya tidak lebih dari 30% dari bahan kering ke dalam pakan.

Proses fermentasi sangat penting diterapkan pada eceng gondok yang akan digunakan sebagai pakan supaya nilai gizinya lebih tinggi dan tingkat kecernaannya juga lebih baik, memperbaiki keseimbangan mikroflora rumen, meningkatkan daya tahan tubuh dan akan menghilangkan atau menurunkan mikroorganisme pantogen.

Keberadaan eceng gondok tidak lagi dipandang hanya sebagai gulma saja, eceng gondok telah digunakan sebagai bahan yang lebih bermanfaat seperti biogas, pupuk dan pakan ternak. Eceng gondok dapat menghasilkan biogas melalui fermentasi sebagai bahan bakar mesin gas pembangkit listrik
(Wabisono, 2004).

Eceng gondok kering mengandung bahan organik sebesar 76,8%, total nitogen 1,5%, kadar abu 24,2% total fosfor 7,07%, potassium 28,7%, sodium 1,8%, kalsium 12,8%, dan klorida 21,0% (Kusrinah, 2016).

EM-4 merupakan cairan yang mengandung mikroorganisme fermentasi yang terjadi dari 80 genus mikroba dan dapat bekerja secara efektif dalam fermentasi bahan organik. Kultur campuran EM-4 terdiri dari 5 golongan yang pokok, yaitu bakteri fotosintetik, lactobacillus sp, saccharomyces sp, actinomycetus sp dan jamur fermentasi (Fardiaz, 1998).

EM-4 merupakan suatu kultur campuran dari berbagai mikroba yang dapat digunakan sebagai inokulen dalam meningkatkan keragaman mikroba dalam proses fermentasi eceng gondok (Agustono, 2009).

Proses fermentasi mampu meningkatkan kandungan nutrien yang eceng gondok yaitu protein sebesar 10-14%, serat kasar 32-47%, dan kadar abu 12%. Dan mampu meningkatkan secara signifikan bobot sapi sebesar 10% dari pakan hijauan segar tanpa fermentasi selama kurun waktu pemeliharaan 3 bulan (Manurung, 2004).

Eceng gondok memiliki potensi yang besar untuk pakan, baik untuk ternak ruminansia yaitu sapi, domba dan kambing maupun nonruminansia yaitu unggas dan kelinci. Penggunaan eceng gondok sampai 15% tidak berpengaruh terhadap konsumsi, bobot badan hidup dan konversi pakan.

Pada penggunaan eceng gondok segar sebagai pakan sapi pada fase pertumbuhan penggunaannya tidak lebih dari 30% dari bahan kering ke dalam pakan (Mahmilia, 2005).Salah satu upaya untuk meningkatkan kandungan nutrisi dari eceng gondok adalah dengan melakukan fermentasi. Pada saat ini teknologi yang sangat sederhana serta biayanya murah adalah fermentasi dengan mikroorganisme lokal.

Dengan metode ini dimanfaatkan mikroorganisme yang baik dan mudah di dapat dan biayanya yang sangat murah sehingga hasil fermentasi sesuai dengan harapan mampu memperbaiki kandungan nutrisi eceng gondok dan menghancurkan zat anti nutrisi yang terdapat pada eceng gondok (Fardiaz, 1992).

Pada proses fermentasi peranan terpenting adalah adanya aktivitas mikroorganisme EM-4 peternakan dalam substrat eceng gondok. Bakteri Lactobacillus cassei dan Rhodopseudomonos palustris berperan sebagai pencerna serat kasar pada eceng gondok karena bakteri mampu menghasilkan enzim selulosa dan amilase, penghasil asam laktat dalam silase untuk menurunkan pH, penghasil asam amino yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan dan penghasil enzim polysacharida yang berperan dalam tingkat daya cerna terhadap pakan (Pelczar, 2001).

Pada eceng gondok yang difermentasikan menggunakan EM-4 peternakan mampu meningkatkan sebesar 65,41% dari 11,39% ke 18,84% dan serat kasar turun 57% dari 36,59% ke 15,73%. Protein akan terpecah menjadi bentuk yang siap serap tanpa banyak yang terbuang sehingga nafsu makan akan bertambah (Cahya, 2000).

Metode Pembuatatn Fermentasi Eceng Gondok Dengan Menggunakan EM-4

  • Dimasukkan EM-4 sebanyak 1 ml atau sama dengan 60 tetes EM-4 ke dalam satu liter air
  • Diaduk air yang sudah dicampur dengan EM-4
  • Diratakan eceng gondok diatas terpal yang sudah disediakan
  • Diciprati sedikit demi sedikit eceng gondok dengan EM-4 yang sudah larut dalam air kemudian aduk hingga merata
  • Dimasukkan eceng gondok yang sudah tercampur rata dengan EM-4 kedalam silo dan selotip tutup silo agar udara tidak masuk
  • Diamati perubahan dari fermentasi eceng gondok tersebut selama 2 minggu

Tabel 1. Hasil Uji Organoleptik Fermentasi Eceng Gondok Dengan Menggunakan EM-4 Yang Baik

No Uji Keterangan
1 pH 7
2 Aroma Bau busuk
3 Tekstur Lembut berlendir
4 Warna Coklat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *