BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vanamei) DENGAN MENGGUNAKAN BENIH TOKOLAN PL-27 DALAM RANGKA MENINGKATKAN SUMBER DAYA KEMARITIMAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vanamei) DENGAN MENGGUNAKAN BENIH TOKOLAN PL-27 DALAM RANGKA MENINGKATKAN SUMBER DAYA KEMARITIMAN DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

Indonesia merupakan negara dengan kontribusi produksi perikanan termasuk lima besar di dunia dengan pangsa >5% produksi perikanan dunia. Nilai ekspor meningkat pesat dari US$2,80 juta tahun 1968 menjadi US$1,60 miliat tahun 2002 (Fauzi, 2007). Potensi pengembangan Industri Udang Indonesia berada dibudidaya tambak udang dengan potensi tambak yang belum digarap sebesar 830.900 ha. Sentra produksi budidaya tambak udang berada di pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Utara. Sedangkan jenis udang tambak yang paling banyak dibudidayakan adalah udang windu dan udang vanamei (Adam, 2013). Salah satu usaha untuk peningkatan nilai dan mengoptimalkan pemanfaatan hasil perikanan budidaya adalah dengan mengembangkan produk bernilai tambah baik olahan tradisional maupun modern (Triyanti, dkk., 2012).

Produksi perikanan Provinsi Sulawesi Selatan meningkat sebesar 8,1% dari tahun 2014 sebesar 3.377.689,6 ton menjadi 3.941.648,8 ton pada tahun 2016. Capaian produksi perikanan tersebut didukung oleh kontribusi produksi perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Pada tahun 2016 produksi perikanan Sulawesi Selatan sebesar 3.941.648,8 ton yang terdiri dari produksi budidaya sebesar 3.629.268 ton dan produksi perikanan tangkap sebesar 312.380,8 ton. Salah satu komoditas unggulan pada bidang budidaya yaitu udang yang mencakup udang windu, udang vanamei, udang putih dan lainnya. Produksi udang di Sulawesi Selatan mengalami penurunan dari tahun 2014 sampai tahun 2016 sebesar 4,7%. Berdasarkan data dari PPMHP Makassar, Disperindag dan BKIPM Makassar pada tahun 2014 jumlah total produksi udang yaitu 43.865 ton dari 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Tahun 2015 mengalami penurunan yaitu 40.346,70 ton, kemudian di tahun 2016 mengalami kenaikan yaitu 41.685,90 ton. Volume ekspor udang di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan sebesar 25,3% di mana volume ekspor rumput laut tahun 2014 sebesar 4.824 ton menjadi 6.884,5 pada tahun 2016, sedangkan nilai ekspor udang juga mengalami penurunan sebesar 5.6% di mana nilai ekspor pada tahun 2014 sebesar 71,3 juta US$ menjadi 61.2 juta US$ pada tahun 2016. Komoditi udang diekspor di berbagai negara tujuan antara lain: Jepang, Korea, Belgia, Amerika Serikat, Inggris, Vietnam, Puerto Rico, Australia, China, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, Taiwan, Italia, Canada.

Udang vanamei (Litopenaeus vanamei) merupakan salah satu komoditi perikanan yang dibudidayakan di Indonesia. Udang ini mulai masuk dan dikenalkan di Indonesia pada tahun 2001 melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 41/2001 sebagai upaya untuk meningkatkan produksi udang Indonesia menggantikan udang windu (Penaeus monodom) yang telah mengalami penurunan kualitas. Terkhusus di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan jumlah produksi udang vanamei pada tahun 2008 yaitu 20.652 ton.  Budidaya udang vanamei dilakukan dengan sistem intensif dan semi intensif, dicirikan dengan padat tebar yang cukup tinggi, yaitu antara 60-150 ekor/m2 (Briggs et al., 2004), penggunaan kincir air, pemanasan biosecurity, pengelolaan kualitas air, penggunaan pakan komersil dengan kandungan protein yang tinggi, penggunaan probiotik dan alat-alat pendukung lainnya. Keberhasilan dalam budidaya udang vanamei dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah-satunya adalah kualitas air. Kelangsungan hidup udang ditentukan oleh derajat keasaman (pH), kadar garam (salinitas), kandungan oksigen terlarut (DO), kandungan amoniak, H2S, kecerahan air, kandungan plankton, dan lain-lain (Hudi dan Shahab, 2005). Gunarto dan Hendrajat (2008) mengemukakan bahwa laju tumbuh udang vanamei di tambak dipengaruhi oleh suplai pakan yang diberikan, pemupukan, aerasi, dan sintasan udang yang dibudidayakan.

Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) berkembang pesat dengan teknologi intensif oleh karena ketersediaan benih SPF (Spesific Pathogen Free), sehingga dapat ditebar dengan kepadatan yang lebih tinggi, dan memiliki sintasan serta produksi yang tinggi (Anonim, 2003; Poernomo, 2004). Di Indonesia kepadatan yang umum dilakukan di berbagai daerah berkisar 80-100 ind./m2 udang vaname dan dapat ditingkatkan hingga 244 ind./m2, dengan menggunakan probiotik yang mampu menghasilkan produksi 37,5 ton/ ha/siklus (Poernomo, 2004). Namun produksi yang tinggi tidak selamanya diikuti oleh keuntungan yang tinggi. Di samping itu, penerapan kepadatan tinggi terbatas pada golongan masyarakat menengah ke atas. Produksi yang tinggi akan berdampak kepada beban limbah yang dihasilkan baik oleh sisa pakan apabila rasio konversi pakan tinggi, maupun kotoran udang. Setelah penurunan produksi pada budidaya udang windu, maka dikembangkan suatu teknologi yang dapat memperbaiki teknologi budidayanya yaitu teknologi pentokolan (teknologi pembantutan), walaupun terbatas pada tingkatan teknologi tradisional plus dan semi-intensif. Keunggulan teknologi ini pada budidaya udang windu adalah efisiensi penggunaan pakan. Pada udang windu menggunakan tokolan 45 hari dari PL-12 pada pembesaran udang pola semi intensif dapat memberikan manfaat antara lain: meningkatkan vitalitas tokolan udang dan memperpendek masa pemeliharaan di pembesaran yaitu 85- 90 hari untuk mencapai bobot rata-rata 25-27 g/ekor, meningkatkan produksi dan sintasan di pembesaran mencapai 70%-89%, dan mengefisienkan penggunaan pakan dengan Rasio Konversi Pakan (RKP) 1,08-1,30. Di samping itu, menjamin ketersediaan benih tokolan dengan kesesuian pola tanam di pembesaran (Mustafa & Mangampa, 1990; Mangampa & Mustafa, 1992). Bertitik tolak dari hal ini maka dilakukan penelitian yang dilakukan Tahe et., al (2009) yaitu penggunaan tokolan pada budidaya udang vanamei, dan dilaporkan sebelumnya bahwa umur tokolan yang terbaik adalah 15 hari dari PL-12 yang dilakukan dalam skala laboratorium. Pengunaan tokolan 15 hari juga dapat meningkatkan produksi pada pembesaran udang vaname tradisional plus di tambak dan menghasilkan RKP (Rasio Konversi Pakan) yang rendah, sehingga memberikan efisiensi biaya dalam biaya operasional (Mangampa et al., 2009). Di samping itu, pemeliharaan disarankan hanya berlangsung 75 hari pada pembesaran udang vanamei tradisional plus. Sehubungan dengan hal tersebut maka dilakukan pengkajian yang memungkinkan dapat menekan biaya operasional pada budidaya udang vanamei intensif yaitu dengan menggunakan tokolan. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi pengaruh penggunaan tokolan terhadap pertumbuhan, sintasan, produksi, dan RKP (Rasio Konversi Pakan) yang dapat menghasilkan efisiensi dalam biaya.

Berdasarkan penelitian oleh Markus Mangampa dan Hidayat Suryanto Suwoyo (2010) di tambak Instalasi Penelitian Punaga, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dengan menggunakan empat petak tambak pembesaran berukuran 4.000 m2/petak. Hewan uji adalah udang vanamei berupa benur vanamei (PL-12) dan tokolan (PL-27) dengan perlakuan: A = Pembesaran dengan penebaran benur (PL-12); dan B = Pembesaran menggunakan tokolan 15 hari (PL-27), masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Benur vanamei yang ditebar adalah benur SPF atau bebas WSSV dan TSV (pengamatan PCR). Baik perlakuan A maupun perlakuan B ditebar dengan kepadatan yang sama yaitu A = 50 ekor/m2 benur PL-12 dan B = 50 ekor/m2 tokolan dengan benur dari induk yang sama. Untuk mendapatkan tokolan udang vanamei maka dilakukan kegiatan pentokolan selama 15 hari menggunakan hapa berukuran 2 m x 3 m x 1 m dengan kepadatan 6.000 ekor/ m3 (Mangampa & Hendrajat, 2008). Kegiatan ini bukan merupakan perlakuan, tetapi hanya dilakukan untuk mendapatkan tokolan vanamei yang berkualitas. Kegiatan penelitian Markus Mangampa dan Hidayat Suryanto Suwoyo (2010) ini dimulai dengan persiapan tambak sesuai dengan protap persiapan budidaya udang yaitu: pengeringan/pengolahan tanah dasar dengan sempurna (ditandai dengan potensial redoks yang bernilai positif), pemberantasan hama dan pengapuran. Persiapan air untuk penebaran diupayakan dengan penumbuhan plankton sehingga perlu dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk organik (butiran) dan anorganik (Urea + TSP). Pemeliharaan air ini berlangsung selama 3 minggu dan aplikasi probiotik 1 minggu sebelum penebaran. Kultur bakteri menggunakan probiotik dengan dosis rata-rata 3,5-5,5 L/ha setiap minggu dan dikultur melalui proses fermentasi selama 3 hari. Media kultur adalah tepung ikan, dedak halus, yeast, molases, garam, dan air tawar yang sudah masak dengan dosis sesuai dengan pedoman yang sudah ada. Pemberian pakan komersial dimulai pada saat penebaran dengan dosis dan frekuensi adalah 2%-100% untuk perlakuan A dan 2%-20% untuk perlakuan B dengan frekuensi 3-5 kali/hari. Peubah kualitas air yang diamati meliputi: pH, suhu, oksigen terlarut, salinitas yang dilakukan setiap hari, sedangkan BOT, NO2, NO3, NH4, dan PO4, kepadatan/jenis plankton, populasi bakteri, dan vibrio dilakukan setiap 2 minggu.

Berdasarkan penelitian dari Markus Mangampa dan Hidayat Suryanto Suwoyo (2010) didapati hasil yaitu selama 80 hari pemeliharaan di tambak, memperlihatkan pertumbuhan mutlak, sintasan, produksi, dan RKP yang bervariasi pada kedua perlakuan. Selama 80 hari pemeliharaan di tambak memperlihatkan pertumbuhan mutlak yang tinggi pada perlakuan pembesaran dengan penebaran tokolan 15 hari (PL-27) yaitu 11,114 ± 0,258 g/ekor, dibandingkan dengan pembesaran dengan tebar benur (PL-12) yaitu 10,085 ± 0,120 g/ekor, namun berbeda tidak nyata antara kedua perlakuan ini. Bobot akhir rata-rata kedua perlakuan memperlihatkan bahwa dengan menggunakan tokolan 15 hari (B) bobot rata-rata setelah 70 hari di pembesaran relatif sama dengan bobot rata-rata perlakuan A tebar benur (PL-12) setelah 80 hari. Hal ini disebabkan tokolan sudah merupakan benur seleksi alami di tambak sehingga mempunyai vitalitas yang lebih baik dibandingkan dengan benur langsung dari hatcheri. Sintasan dan produksi lebih tinggi pada pembesaran menggunakan tokolan (B) yaitu masing-masing: 92,55 ± 0,23% dan 2.087,5 ± 88,2 kg/petak, dibandingkan pembesaran menggunakan benur (A) dengan sintasan dan produksi masing-masing 90,83 ± 8,51% dan 1.831,0 ± 149,9 kg/ha.. Rasio Konversi Pakan (RKP) yang menggunakan tokolan rendah yaitu 1,096 ± 0.034, dibandingkan RKP pembesaran menggunakan benur yaitu 1,257 ± 0,048. Perbedaan RKP ini sangat menentukan efisiensi dalam biaya operasional yaitu pakan, di mana kita ketahui bahwa biaya operasional yang terbesar pada budidaya udang vanamei intensif adalah pakan yang dapat mencapai 60%. Hal ini sesuai prinsip pentokolan pada udang windu yaitu dengan menebar tokolan (benih yang dibantut) memberikan manfaat efisiensi penggunaan pakan (Mustafa & Mangampa, 1990; Mangampa & Mustafa, 1992).

Peubah kualitas air: suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas, BOT, PO4, NO3, dan NH3, memperlihatkan kisaran dengan pola sebaran yang relatif sama antara kedua perlakuan. Kecuali peubah kualitas air NO2 memperlihatkan sebaran yang bervariasi antara kedua perlakuan. Bahan organik total menggambarkan kandungan bahan organik total suatu perairan yang terdiri atas bahan organik terlarut, tersuspensi, dan koloid. Hasil pengamatan kandungan Bahan Organik Total (BOT) yang didapatkan pada perlakuan A (tebar benur) berkisar 28,61-52,67 dan perlakuan B (tebar tokolan) berkisar 19,36-50,81mg/L. Kisaran ini tergolong layak dalam proses budidaya udang vanamei sesuai yang dikemukakan Adiwijaya et al. (2003) bahwa kisaran optimal bahan organik total pada budidaya udang vanamei <55 mg/L. Kondisi yang layak ini diduga disebabkan oleh ketersediaan oksigen terlarut yang cukup dan pemberian probiotik yang bertujuan untuk membantu aktivitas bakteri dalam penguraian bahan organik menjadi senyawa sederhana. Menurut Boyd (1982), kandungan BOT suatu perairan normal adalah maksimum 15 mg/L, kandungan BOT tinggi maka dapat menurunkan kandungan oksigen terlarut dalam air sehingga menurunkan daya tahan udang. Kandungan Fosfat relatif sama antara kedua perlakuan yaitu: 0,0126-0,5163 mg/L (perlakuan A) dan 0,0251-0,5146 mg/L (perlakuan B).

Keberadaan unsur hara yang relatif sama antara kedua perlakuan dikarenakan dosis dan frekuensi yang sama dalam pemupukan dasar dan susulan menggunakan pupuk TSP dan organik. Konsentrasi fosfat selama penelitian tergolong tingkat kesuburan sedang berdasarkan kriteria Joshimura (1983) dalam Effendie (2000), perairan dengan tingkat kesuburan rendah kadar fosfatnya berkisar 0-0,02 mg/L; tingkat kesuburan sedang berkisar 0,021-0,05 mg/L; dan kesuburan tinggi berkisar 0,051-0,1 mg/L. Nitrat adalah bentuk nitrogen utama dalam perairan alami dan sangat diperlukan oleh pertumbuhan akuatik (alga), sangat mudah larut dalam air bersifat stabil (Effendie, 2000). Pola penyebaran NO3 dalam perairan kedua perlakuan relatif sama dengan konsentrasi NO3 masing-masing 0,0161-0,0937 mg/L (perlakuan A) dan perlakuan (B) 0,0082-0,1806 mg/L. Konsentrasi NO3 ini cukup layak dan diperlukan karena merupakan bentuk nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh plankton dalam pertumbuhannya. Menurut Clifford (1994), bahwa konsentrasi NO3 yang optimum untuk udang vanamei berkisar 0,4-0,8 mg/L. Kisaran amoniak cukup tinggi pada awal penebaran pada kedua perlakuan utamanya pada perlakuan A mencapai 1,3756 mg/L; sedangkan perlakuan B mencapai 0,8858 mg/L. Namun kisaran ini menurun setelah 2 minggu pemeliharaan baik untuk perlakuan A maupun perlakuan B. Pengamatan yang tinggi didapatkan sebelum penebaran benur dan tidak berlangsung lama. Konsentrasi amoniak yang baku untuk budidaya udang vanamei yaitu < 0,1 mg/L (Anonim, 2003). Boyd & Fast (1992) mengatakan bahwa konsentrasi NH3 lebih dari 1,0 mg/L dapat menyebabkan kematian udang, sedangkan konsentrasi lebih dari 0,1 mg/L berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan udang. Hasil pengamatan nitrit dalam air tambak pada kedua perlakuan memperlihatkan pola penyebaran yang hampir sama dari awal sampai akhir pemeliharaan perlakuan A 0,0008-0,0538; namun meningkat pada akhir pemeliharaan perlakuan B yang mencapai 0.0008-0,3441 mg/L. Konsentrasi nitrit pada akhir pemeliharaan perlakuan B cukup tinggi sesuai pendapat Adiwijaya et al. (2003) bahwa kisaran optimum nitrit untuk budidaya udang vanamei yakni 0,01-0,05 mg/L. Namun menurut Suprapto (2005), kandungan NO2 yang dapat ditoleransi oleh udang vanamei berkisar 0,1- 1,0 mg/L. Pada awal pemeliharaan, kepadatan fitoplankton maupun zooplankton cukup padat dan pola penyebarannya merata pada kedua perlakuan. Hal ini disebabkan oleh pemupukan tanah dasar dengan jenis dan dosis pupuk yang sama. Fitoplankton didominasi oleh Guinardia sp., menyusul Pleurosigma sp., Chaetoceros sp., Oscillatoria sp., Protoperidinium sp., dan Navicula sp. Kelimpahan yang tinggi pada awal pemeliharaan sangat mendukung pertumbuhan benur vanamei.

Pakan alami dari zooplankton didominasi oleh jenis Branchionus sp., menyusul Nauplii copepoda, Tortanus sp., dan Acartia sp., sedangkan Oithonia sp., Nitocra sp., dan Microsetella sp. dijumpai dalam kelimpahan yang rendah. Total bakteri dalam air tambak kedua perlakuan memperlihatkan populasi yang relatif stabil selama pemeliharaan, demikian pula total bakteri di dalam air tandon maupun air laut. Total bakteri selama pemeliharaan dalam perlakuan A 3-7,0607 cfu/mL dan perlakuan B 4,3222-6,4698 cfu/mL; sedangkan dalam air tandon 4,6532-8,7782 cfu/mL; dan air laut 4,6021-8,00 cfu/mL. Total vibrio selama pemeliharaan memperlihatkan populasi yang meningkat seiring dengan umur pemeliharaan, baik dalam air tambak kedua perlakuan maupun dalam air tandon. Namun peningkatan yang paling ekstrem adalah dalam air laut pada akhir penelitian Total vibrio dalam air tambak perlakuan A adalah 1.3979-2.8383 cfu/mL, relatif sama dengan perlakuan B 1.000-3.0607 cfu/mL dan air tandon 1,4771-3,1363 cfu/mL. Kisaran pada air laut dari 1,7782-4,0414 cfu/mL.

Berdasarkan hasil penelitian oleh Markus Mangampa dan Hidayat Suryanto Suwoyo (2010) dapat disimpulkan bahwa pembesaran udang vanamei teknologi intensif dengan menggunakan tokolan PL-27 dapat menghemat pakan dengan rasio konversi pakan (RKP) lebih rendah: 1,096 ± 0,034 dibanding dengan pembesaran menebar benur PL-12 yaitu: 1,257 ± 0,048. Budidaya udang vaname tergolong layak karena kisaran optimal pada BOT (Bahan Organik Total) pembesaran udang vanamei dengan menggunakan tokolan yaitu 19,36 – 50,81 mg/L. Konsentrasi fosfat berada pada tingkat kesuburan sedang yaitu 0,0251-0,5146 mg/L. Konsentrasi NO3 pada pembesaran udang dengan menggunakan tokolan tergolong cukup layak yaitu 0,0082-0,1806 mg/L karena bentuk nitrogen dapat dimanfaatkan oleh plankton dalam pertumbuhannya. Kandungan NO2 pada pembesaran udang dengan menggunakan tokolan masih dapat ditoleransi yaitu pada kisaran optimum 0,01-0,05 mg/L setelah 2 minggu pemeliharaan.

Dengan begitu, budidaya udang vanamei dengan menggunakan tokolan PL-27 mampu meningkatkan produksi sumber daya kemaritiman di Provinsi Sulawesi Selatan. Budidaya udang tersebut dapat menghemat biaya pakan sehingga meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam mengembangkan budidaya udang tersebut. Udang vanamei memiliki kandungan gizi yang tinggi, maka diharapkan dengan meningkatnya produksi udang vanamei di Indonesia dapat juga meningkatkan nilai gizi masyarakat di Indonesia sehingga tercipta Indonesia yang sehat. Peningkatan produksi udang vanamei berpengaruh pada perekonomian di Indonesia. Dengan meningkatnya produksi udang, maka meningkat juga nilai ekspor di Indonesia sehingga perekonomian terus meningkat. Dengan budidaya udang vanamei menggunakan tokolan PL-27 dapat membantu para peternak udang dalam mengembangkan nilai usahanya dan meningkatkan pendapatan serta taraf kesejahteraan bagi para peternak udang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adam, Adi Karya Kelana Putra. 2013. Industri Dan Ekspor Udang Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.

Anonim. 2003. Litopenaeus Vannamei Sebagai Alternatif Budidaya Udang Saat Ini. PT Central Proteinaprima (Charoen Pokphand Group) Surabaya. 16 hlm.

Adiwijaya, D., Sapto, P.R., Sutikno, Sugeng, E., & Subiyanto. 2003. Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Sistem Tertutup Yang Ramah Lingkungan. Departemen Kelautan Dan Perikanan. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. 29 hlm.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality For Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Publishing Company. Amsterdam. 312 pp.

Boyd, C.E. & Fast, A.W. 1992. Pond Monitoring And Management. Marine Shrimp Culture Principles And Practices. Elsevier Science Publishing Comp. Inc. New York. p. 497- 513.

Briggs, M., Smith, S.F., Subasinghe, R., Phillips, M. 2004. Introduction and Movement of and in Asia and The Pacific. RAP Publication.

Clifford, H.C. 1994. Management Of Ponds Stocked With Blue Shrimp Litopenaeus Stylirostris. In Print, Proceedings Of The 1st Latin American Congress On Shrimp Culture. Panama City. Panama. p. 101- 109.

Dinas Komuniukasi, Informatika, Statistik dan Persandian Provinsi Sulawesi Selatan. 2018. Komoditas Unggulan Udang. https://sulselprov.go.id/pages/potensi_daerah/komoditas-unggulan-udang. 15 November 2019 (17.00 WIB).

Effendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Perairan. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan. FPIK-IPB. Bogor. 258 hlm.

Fauzi, A. 2007. Economic of Nature’s Non-Convexity Reorientasi Pembangunan Ekonomi Sumberdaya Alam dan Implikasinya bagi Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar Ilmu Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Gunarto dan Hendrajat, E.A. 2008. Budidaya Udang Vanamei, Litopenaeus Vannamei Pola Semiintensif Dengan Aplikasi Beberapa Jenis Probiotik Komersial. J. Ris. Akuakultur. 3 (3): 339-349.

Hudi L, Shahab A. 2005. Optimasi Produktifitas Budidaya Udang Vaname Litopenaeus vannamei dengan Menggunakan Metode Respon Surface dan Non Linier Programming. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Mangampa, M. & Mustafa, A. 1992. Penggunaan Benur Hasil Pembantutan Dan Pengelolaan Ransum Pada Budidaya Udang Windu. Penaeus monodon yang dibantut. J. Pen. Budidaya Pantai. 8(1): 37-40.

Mangampa, M. & Hendrajat, E. 2008. Optimalisasi Padat Tebar Udang Vanamei (Litopenaeus Vannamei) Pada Pentokolan Sistim Hapa. Prosiding Pusat Riset Perikanan Budidaya. 8 hlm.

Mangampa, M., Tahe, S., & Suwoyo, H.S. 2009. Riset Budidaya Udang Vanamei Tradisional Plus Menggunakan Benih Tokolan Dengan Ukuran Yang Berbeda. Konferensi Akuakultur Indonesia 2009. MAI. Yogyakarta. 11 hlm.

Mangampa, M & Suwoyo. 2010. Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Teknologi Intensif Menggunakan Benih Tokolan. J. Ris. Akuakultur. 5 (3): 351-361.

Mustafa, A. & Mangampa, M. 1990. Usaha Budidaya Udang Tambak Menggunakan Benur Windu, Penaeus Monodon Yang Berbeda Lama Pembantutannya. J. Penel. Budidaya Pantai. 6(2): 35-46.

Poernomo, A. 2004. Teknologi Probiotik Untuk Mengatasi Permasalahan Tambak udang dan Lingkungan Budidaya. Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Pengembangan Ilmu dan Inovasi Teknologi dalam Budidaya. Semarang. 24 hlm.

Suprapto. 2005. Petunjuk teknis budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). CV Biotirta. Bandar Lampung. 25 hlm.

Tahe, S., Mangampa, M., & Suwoyo, H.S. 2009. Seminar Forum Innovasi Teknologi Akuakultur. BRKP. Surabaya. 11 hlm.

Triyanti, Riesti & Nensyana Shafitri . 2012. Kajian Pemasaran Ikan Lele (clarias sp) dalam Mendukung Industri Perikanan Budidaya (Studi Kasus di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah). J. Sosek KP. 7 (2): 1-9.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *